Ketua Majelis GAZA, Diki Chandra
JAKARTA | POROSNUSANTARA.COM – Mimpi secara harfiah adalah rangkaian gambaran, emosi, pikiran, dan sensasi yang dialami secara tidak sadar oleh pikiran manusia selama tidur, terutama pada fase Rapid Eye Movement (REM). Mimpi sering kali terasa sangat nyata dan melibatkan indra penglihatan atau pendengaran, yang muncul dari aktivitas otak aktif meskipun tubuh sedang beristirahat.
Berikut adalah perihal penting mengenai mimpi secara harfiah:
• Definisi: Menurut KBBI, mimpi adalah pengalaman bawah sadar yang melibatkan penglihatan, pendengaran, pikiran, perasaan, atau sensasi lain saat tidur, yang bisa berupa cerita naratif atau fragmen acak.
• Proses Terjadinya: Mimpi terjadi akibat aktivitas otak yang tetap bekerja di balik layar, khususnya pada bagian amigdala dan hippocampus (bagian emosi dan memori), sering kali saat napas tidak teratur pada tahap REM.
• Karakteristik: Mimpi bisa sangat bervariasi, mulai dari yang jelas, membingungkan, menyenangkan, hingga menakutkan. Hal ini merupakan “pemutaran ulang” kenangan lama atau baru secara acak.
• Fungsi: Secara ilmiah, mimpi berfungsi memproses informasi, mengonsolidasi memori, mengatur emosi, dan memecahkan masalah yang belum terselesaikan dari hari sebelumnya.
• Waktu: Umumnya terjadi pada fase tidur REM yang berlangsung sekitar 90 menit setelah tertidur dan berulang sepanjang malam.
Meskipun seringkali terasa samar atau tidak masuk akal, secara harafiah mimpi adalah fenomena neurologis di mana otak tetap aktif memproses informasi saat manusia tidur.
Mimpi menurut Islam dijelaskan dalam beberapa hadist.
Apa yang harus dilakukan bila bermimpi baik atau bermimpi buruk.
عن أبي قتادة رضي الله عنه قال: سمعت النبي- صلى الله عليه وسلم- يقول: «الرُّؤْيا الحَسَنَةُ مِنَ الله، فَإذَا رَأَى أَحَدُكُمْ مَا يُحِبُّ، فَلا يُحَدِّثْ بِهِ إلَّا مَنْ يُحِبُّ، وَإذَا رَأَى مَا يَكْرَهُ، فَلْيَتَعَوَّذْ بِالله مِنْ شَرِّهَا، وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ، وَلْيَتْفِلْ ثَلاثاً، وَلا يُحَدِّثْ بِهَا أَحَداً، فَإنَّهَا لَنْ تَضُرَّهُ». متفق عليه.
Dari Abu Qatadah Radhiyallahu anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Mimpi yang baik berasal dari Allah, maka apabila salah seorang di antara kalian bermimpi hal yang disukainya, janganlah dia menceritakannya kecuali kepada orang yang disukainya dan bila dia bermimpi buruk, maka mintalah perlindungan dari kejahatannya dan dari kejahatan setan dan janganlah menceritakannya kepada siapapun, niscaya mimpi tersebut tidak akan mencelakakannya”. Muttafaq ’alaih[1]
عن أبي سعيد رضي الله عنه أنه سمع رسول الله- صلى الله عليه وسلم- يقول: «إذَا رَأَى أَحَدُكُمُ الرُّؤْيَا يُحِبُّهَا فَإنَّهَا مِنَ الله فَلْيَحْمَدِ الله عَلَيْهَا». أخرجه البخاري.
Dari Abu Sa’id Al Kudri Radhiyallahu anhu bahwa ia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila salah seorang kamu bermimpi hal yang disukainya, sesungguhnya itu berasal dari Allah, ucapkan Alhamdulillah dan ceritakanlah”. H.R. Bukhari .[2]
عن أبي سعيد رضي الله عنه أنه سمع رسول الله- صلى الله عليه وسلم- يقول: «إذَا رَأَى أَحَدُكُمُ الرُّؤْيَا يُحِبُّهَا فَإنَّهَا مِنَ الله فَلْيَحْمَدِ الله عَلَيْهَا». أخرجه البخاري.
Dari Abu Sa’id Al Kudri Radhiyallahu anhu bahwa ia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Apabila salah seorang kamu bermimpi hal yang disukainya, sesungguhnya itu berasal dari Allah, ucapkan Alhamdulillah dan ceritakanlah”. H.R. Bukhari .[2]
عن جابر رضي الله عنه عن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- أنه قال: «إذَا رَأَى أَحَدُكُمُ الرُّؤْيَا يَكْرَهُهَا فَلْيَبْصُقْ عَنْ يَسَارِهِ ثَلاثاً، وَلْيَسْتَعِذْ بِالله مِنَ الشَّيْطَانِ ثَلاثاً، وَلْيَتَحَوَّلْ عَنْ جَنْبِهِ الَّذِي كَانَ عَلَيْهِ». وفي لفظ: «فَإنْ رَأَى أَحَدُكُمْ مَا يَكْرَهُ فَلْيَقُمْ فَلْيُصَلِّ». أخرجه مسلم.
Dari Jabir Radhiyallahu anhu dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Bila salah seorang kamu bermimpi buruk maka meludahlah ke kiri 3x dan ucapkan:
أَعُوْذُ بِالله مِنَ الشَّيْطَانِ
“Aku berlindung kepada Allah dari syaitan” 3x, lalu ubahlah posisi tidurmu semula”. Dalam riwayat lain: Bila salah seorang kamu bermimpi buruk maka bangkitlah dan shalat “. HR. Muslim. [3]
Merasa gembira dengan mimpi yang baik.
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله- صلى الله عليه وسلم- يقول: «لَمْ يَبْقَ مِنَ النُّبُوَّةِ إلَّا المُبَشِّرَاتُ» قَالُوا: وَمَا المُبَشِّرَاتُ؟ قَالَ: «الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ». أخرجه البخاري.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata: “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai manusia tidak tersisa dari tanda kenabian kecuali al-mubasyiro”, “Apakah mubasyirot itu wahai Rasulullah?, beliau bersabda: “Mmimpi yang benar.” HR Bukhari . [4]
عن أنس بن مالك رضي الله عنه أن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- قال: «الرُّؤْيَا الحَسَنَةُ مِنَ الرَّجُلِ الصَّالِحِ جُزْءٌ مِنْ سَتَّةٍ وَأَرْبَعِينَ جُزْءاً مِنَ النُّبُوَّةِ». متفق عليه.
Dari Anas Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Mimpi yang baik dari seorang lelaki yang shaleh adalah satu bagian dari empatpuluh enam bagian dari kenabian.” Muttafaq ’alaih.[5].
Keutamaan dan Adab
Klasifikasi: Keutamaan dan Adab . Adab-adab Syar’i . Adab Bermimpi .
عن أبي هريرة ـ رضي الله عنه ـ قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: «لم يبقَ من النُّبُوَّةِ إلا المُبَشِّرَاتُ» قالوا: وما المُبَشِّرَاتُ ؟ قال: «الرؤيا الصالحة».
[صحيح] – [رواه البخاري]
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu ‘anhu-, ia berkata, Aku pernah mendengar Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
“Tidak ada yang tersisa dari kenabian selain Al-Mubasy-syirāt.” Para sahabat bertanya, “Apa Al-Mubasy-syirāt itu?” Beliau bersabda, “Mimpi yang baik.”
[Hadis sahih] – [Diriwayatkan oleh Bukhari]
Uraian :
Nabi -Shallallāhu ‘alaihi wa sallam– mengisyaratkan bahwa mimpi baik adalah mubasy-syirāt dan itu merupakan peninggalan kenabian yang masih tersisa setelah wahyu terputus. Tidak ada lagi yang tersisa untuk mengetahui apa yang akan terjadi kecuali mimpi yang baik.
Meskipun istilah “Al-Mubasyirat” secara literal lebih sering muncul dalam hadits, konsep “kabar gembira” bagi orang beriman terdapat dalam Al-Qur’an, salah satunya: “…Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan dunia dan di akhirat…” (QS. Yunus: 64).
Ulama, termasuk dalam riwayat dari Muwatha’ Malik, menafsirkan kabar gembira di dunia pada ayat tersebut sebagai mimpi baik yang dialami oleh seorang muslim atau diperlihatkan padanya.
Mimpi tersebut umumnya datang kepada orang yang saleh, jujur dalam perkataan, dan mimpi yang membawa kabar gembira, bukan yang menakutkan (mimpi buruk dari setan).
Dalam pandangan syariat Islam, sikap yang tepat terhadap Al-Mubasyirat (kabar gembira/mimpi) dari Muhammad Qasim bin Abdul Karim asal Pakistan adalah tidak menjadikannya sebagai landasan akidah atau dasar hukum (hujjah). Mimpi tersebut tidak boleh dipercayai secara mutlak atau diyakini sebagai kebenaran yang pasti terjadi.
Berikut adalah perihal penting berdasarkan prinsip Islam:
Mimpi Bukan Sumber Hukum: Mimpi seorang muslim, bahkan jika bermimpi bertemu Nabi SAW, adalah kabar gembira (basyir) yang bersifat pribadi. Mimpi tersebut tidak mengikat orang lain dan tidak bisa dijadikan dalil, ramalan, atau dasar keimanan.
Risiko Fitnah: Mengikuti mimpi seseorang yang mengklaim bertemu Allah atau Nabi dan meramalkan kejadian akhir zaman berisiko terjerumus ke dalam taksub (fanatisme) dan fitnah akhir zaman.
Bukan Imam Mahdi: Qasim Pakistan mengaku mendapat mimpi diperintah Allah untuk menyebarkan mimpinya, namun ia juga sering dikaitkan sebagai Imam Mahdi—sebuah klaim yang harus disikapi hati-hati karena kemunculan Imam Mahdi memiliki tanda-tanda yang jelas menurut hadis, bukan sekadar cerita mimpi.
Himbauan Ulama: Para ulama umumnya berpesan agar tidak fokus mencari tanda-tanda kiamat atau terbuai dengan ramalan-ramalan mimpi. Fokuslah pada perbaikan amal ibadah dan ketaatan kepada ajaran Al-Quran dan Sunnah.
Kesimpulan:
Anda tidak diwajibkan untuk percaya, dan tidak diperbolehkan meyakini secara mutlak mimpi-mimpi tersebut. Al-Mubasyirat boleh didengar sebagai renungan, namun tidak layak dijadikan landasan keyakinan dalam agama. (tim/red)














