JAKARTA | POROSNUSANTARA.COM – Dalam rangka menyambut Tahun Baru Imlek 2026 tepatnya tanggal 17 Februari, dan bulan Ramadhan Pengurus RW 18 Kelurahan Sunter Agung, Tj.Priok, Jakarta Utara membagikan beras sejumlah kurang lebih 450 kantong kepada warga tetangga yaitu warga RW.07, Sabtu 15/2/2026.
Menurut ketua RW 18, Fajar Budiman, kegiatan ini,
“Sudah sering dilaksanakan sebagai bentuk kepedulian kepada warga kurang mampu. Momen ini dalam rangka menyambut Imlek dan sekaligus bulan Ramadhan karena waktunya berdekatan,” ujarnya.
Hadir dalam acara tersebut di antaranya, Wakil RW.18, Rosidin Kusno, pengurus RT 01 Lukas Winarno , RT 05, Teddy Juliman, RT 03, Julius Migu RT 04, Aan, ketua RW.07 Sunter Agung, Ary Supriadi, Ketua.RW.10 yang diwakili penggurusnya, Heri, ketua LMK Sunter Agung, Sudarman, T., dan beberapa anggotanya dan Babinsa, Kiryono.
Dari pantauan media ini tampak warga dengan senang dan pada sumringah menerima bingkisan beras 5 kg.

Terkait Tahun Baru Imlek 2026 ini sebagaimana diberitakan BBC News Chinese (https://www.bbc.com/indonesia/articles/cjd9l2em9lmo ), Kota-kota di seluruh China dan miliaran warga keturunan Tionghoa di dunia bersiap menyambut Tahun Baru Imlek pada 17 Februari, ketika shio akan berubah dari Tahun Ular menjadi Tahun Kuda.
Dekorasi bertema kuda telah muncul di pusat perbelanjaan, ucapan selamat meriah terpampang di papan reklame, emoji kuda dan angpao bermunculan di layar ponsel.
Bagi banyak orang Tionghoa, Tahun Baru Imlek lebih dari sekadar pengaturan ulang kalender. Ini adalah momen bersama untuk mengirimkan berkah dan menetapkan rencana untuk tahun mendatang.
Tetapi ada apa di balik tradisi Tahun Baru Imlek, dan mengapa ada minat khusus pada shio tahun ini?
Asal usul Tahun Baru Imlek
Tahun Baru Imlek diperkirakan sudah ada sejak abad ke-14 SM, ketika masa pemerintahan Dinasti Shang, dan asal-usulnya kaya akan legenda.
Mitologi Tionghoa menceritakan asal usulnya kembali ke pertempuran melawan monster yang disebut Nian – yang berarti “tahun” dalam bahasa China.
Nian akan tiba pada hari pertama tahun baru untuk meneror penduduk desa. Namun, penduduk desa menemukan bahwa Nian takut dengan suara keras, cahaya terang, dan warna merah.
Jadi setiap tahun baru, penduduk desa akan menggantung lentera merah untuk menakut-nakuti Nian dan menyalakan petasan juga. Nian tidak pernah terlihat lagi.(dar)














