Oleh : Ahmad Tuliabu.
BILATO GORONTALO | POROSNUSANTARA.COM – Kata Bilato dalam bahasa Gorontalo bukan sekadar rangkaian huruf tanpa makna. Secara harfiah, Bilato berarti kerikil atau bebatuan kecil.
Di tanah Gorontalo, khususnya di Kecamatan Bilato, nama ini membawa filosofi alam yang mendalam: kerikil-kerikil kecil yang tumbuh berkelompok, bergerak bersama, hingga mampu menyelimuti dan menenggelamkan batu besar di bawahnya.
Hari ini, filosofi itu harus ditarik dari sekadar cerita asal-usul desa menjadi sebuah manifesto perlawanan. Dalam tatanan sosial kita, rakyat adalah kerikil-kerikil kecil itu, sementara pejabat dan penguasa adalah batu-batu besar yang keras.
Sudah terlalu lama batu-batu ini menindih kerikil di bawahnya.
Sudah terlalu lama rakyat diinjak, ditekan, dan dipaksa memikul beban kebijakan yang tidak berpihak pada mereka.
Saatnya membalik takdir. Jangan pernah lagi membiarkan diri kalian tertindis oleh batu! Jika kerikil bersatu dalam kelompok yang solid, mereka punya kekuatan kolosal untuk bergerak ke atas, mengepung, dan menutupi batu tersebut sampai tidak lagi muncul ke permukaan.
Rakyat memiliki kekuatan untuk meredam keangkuhan penguasa, bukan sebaliknya.
Jangan Biarkan Penguasa Mengisap Darah Rakyat
Sangat ironis ketika melihat para pejabat berlenggang dengan pongah, menikmati fasilitas mewah yang dibiayai oleh keringat rakyat, sementara di sudut-sudut desa, masyarakat berjuang mati-matian hanya untuk menyambung hidup.
Kita tidak boleh membiarkan para penguasa korup seenaknya mengisap darah dan memakan daging rakyatnya sendiri melalui kebijakan yang manipulatif dan serakah.
Salah satu bentuk kezaliman nyata yang sering terjadi adalah penyelewengan bantuan sosial.
Ketahuilah dan tanamkan dalam pikiran: Program Keluarga Harapan (PKH) dan berbagai bentuk Bansos lainnya adalah hak mutlak milik kalian, rakyat yang membutuhkan.
Bantuan itu bukan hadiah pribadi dari kebaikan hati seorang pejabat, bukan pula alat politik untuk membeli kesetiaan kalian. Itu adalah uang rakyat yang dikembalikan untuk rakyat.
Ketika hak PKH kalian dipotong, ditunda, atau salah sasaran karena permainan orang dalam, jangan diam! Diam di hadapan kezaliman adalah bentuk kesepakatan terselubung terhadap kejahatan itu sendiri.
Hukum Berpihak pada yang Tertindas, Bukan Penjilat
Seringkali, rakyat kecil merasa ciut untuk bersuara karena takut menghadapi tembok kekuasaan.
Ada persepsi keliru bahwa hukum hanya tajam ke bawah dan tumpul ke atas.
Namun ingatlah prinsip keadilan yang sejati: hukum tidak pernah diciptakan untuk membela para penjilat dan pemangku takhta yang culas.
Sesungguhnya, esensi hukum tertinggi adalah melindungi masyarakat yang tertindas.
Ketika rakyat berani berdiri bersatu, menuntut transparansi, dan menyuarakan kebenaran demi hak-hak mereka yang dirampas, maka hukum akan menjadi perisai bagi mereka.
Jangan pernah takut menuntut kebenaran. Ketakutan rakyat adalah bahan bakar utama bagi kelanggengan sebuah tirani.
Menjadi Kerikil yang Bersatu
Satu butir kerikil mungkin mudah ditendang dan disingkirkan. Namun, ketika jutaan kerikil Bilato berkumpul dan bergerak dalam satu gelombang kesadaran yang sama, tidak ada satu pun batu besar yang mampu menahannya.
Batu-batu ego dan keserakahan pejabat itu akan tenggelam dalam lautan persatuan rakyat.
Mari kita jaga hak-hak kita. Mari kita awasi setiap rupiah Bansos dan PKH yang turun ke desa-desa kita.
Bangkitlah, wahai kerikil-kerikil Bilato, tutupi kesombongan batu-batu penguasa, dan rebut kembali keadilan yang melekat pada darah dan tanah kalian!
(Ahmad Tuliabu : Kaperwil .Sulteng Porosnusantara.com)

















