Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
AGAMA

Dari Shalawat, Belung Merawat Ingatan tentang Nabi dan Kebersamaan Warga

430
×

Dari Shalawat, Belung Merawat Ingatan tentang Nabi dan Kebersamaan Warga

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

MALANG | POROSNUSANTARA.COM — Selepas shalat Jumat, Jumat (21/8/2026), Masjid Ar Ridlo Belung, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, belum benar-benar lengang. Jamaah masih bertahan. Sebagian duduk bersila, sebagian lain bercakap dalam suasana akrab. Di ruang masjid itu, lantunan shalawat dan pesan tentang Nabi Muhammad SAW menjadi pengikat sebuah perjumpaan.

Sekitar pukul 12.00 WIB, Pengurus Hari Besar Islam (PHBI) Masjid Ar Ridlo Belung menggelar peringatan Nabi Muhammad SAW. Warga datang bukan sekadar untuk mengikuti sebuah agenda keagamaan, melainkan juga untuk merawat tradisi yang telah menjadi bagian dari kehidupan sosial mereka.

Example 300x600

Di tengah perubahan zaman yang membuat perjumpaan antarwarga semakin mudah bergeser ke ruang digital, pertemuan semacam itu memiliki arti tersendiri. Orang-orang duduk dalam satu ruang, mendengarkan pesan yang sama, dan untuk sesaat meletakkan kesibukan masing-masing.

Di situlah makna sebuah tradisi sering kali bekerja: diam-diam menjaga sesuatu yang lebih besar daripada seremoni itu sendiri.

Shalawat dan kesadaran batin

Ceramah utama disampaikan KH Drs Syaifudin Zuhri. Ia mengajak jamaah memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Menurutnya, shalawat tidak semestinya berhenti sebagai ungkapan verbal. Di baliknya terdapat kesadaran tentang hubungan manusia dengan sosok yang menjadi teladan utama dalam kehidupan umat Islam.

“Semua makhluk membutuhkan syafaat Kanjeng Nabi Muhammad SAW,” ujar KH Syaifudin Zuhri.

Pesan itu menjadi penting ketika shalawat ditempatkan bukan hanya sebagai bacaan, tetapi sebagai jalan untuk membentuk kesadaran moral. Sebab, kecintaan kepada Nabi pada akhirnya akan diuji bukan dari banyaknya kata yang diucapkan, melainkan dari perubahan perilaku setelahnya.

Shalawat mengajak manusia untuk mengingat Nabi. Keteladanan Nabi mengajak manusia melihat dirinya sendiri.

Di titik itu, peringatan Nabi Muhammad SAW menemukan makna reflektifnya. Jamaah tidak hanya diajak mengenang seorang tokoh besar dalam sejarah Islam, tetapi juga bercermin: apakah kelembutan Rasulullah telah hadir dalam tutur kata, apakah kejujuran beliau telah menjadi kebiasaan, dan apakah kasih sayang kepada sesama telah menemukan tempat dalam kehidupan sehari-hari.

Tradisi yang tidak ingin putus

Takmir Masjid Ar Ridlo, Gus Abdul Hamid Sobri atau Gus Hamid, mengatakan kegiatan tersebut merupakan kelanjutan dari agenda yang telah dilakukan pengurus takmir sebelumnya.

“Kegiatan ini meneruskan agenda rutin dari pengurus takmir sebelumnya. Semoga kegiatan ini bisa terus istiqamah,” katanya.

Pernyataan itu tampak sederhana. Namun, di dalamnya terdapat persoalan yang lebih besar: bagaimana sebuah komunitas mempertahankan ingatan dan nilai di tengah perubahan.

Tradisi pada dasarnya bukan sekadar pengulangan. Ia adalah cara sebuah masyarakat menyimpan nilai, lalu mewariskannya kepada generasi berikutnya.

Ketika masyarakat berkumpul untuk bershalawat, mendengarkan ceramah, dan bersilaturahmi, yang diwariskan bukan hanya acara. Ada kebiasaan berkumpul, ada penghormatan kepada ulama, ada kecintaan kepada Nabi, sekaligus ada kesadaran bahwa kehidupan beragama tidak harus berjalan sendirian.

Masjid menjadi ruang tempat semua itu bertemu.

Ketika agama bertemu kebudayaan

H Syamsu Duha, yang akrab dipanggil Abah Duha dari PC DMI, menyambut baik kegiatan tersebut.

Menurut dia, kegiatan itu menunjukkan adanya kolaborasi antara pengurus takmir masjid, Pemerintah Desa Belung, masyarakat, dan warga NU yang secara kultural menjadi bagian besar dari kehidupan Desa Belung.

“Kegiatan ini merupakan langkah nyata bagaimana agama dibangun di atas budaya,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menyimpan gagasan yang lebih dalam. Agama tidak hidup di ruang hampa. Ia hadir di tengah masyarakat yang memiliki sejarah, tradisi, bahasa, kebiasaan, dan ingatan kolektif.

Karena itu, ketika nilai-nilai agama dirawat melalui tradisi yang baik, agama tidak terasa sebagai sesuatu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, ia menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat.

Dalam konteks itu, peringatan Nabi Muhammad SAW bukan hanya tentang masa lalu. Ia menjadi cara masyarakat membaca kembali masa kini.

Nilai persaudaraan, penghormatan, kesederhanaan, kasih sayang, dan kepedulian sosial yang diwariskan Nabi menemukan relevansinya dalam kehidupan warga hari ini.

Masjid sebagai ruang sosial

Peringatan tersebut juga dihadiri Saiful Anam, Ketua PC Pagar Nusa Kabupaten Malang; H Zainuri, Ketua Tanfidziyah MWC NU Poncokusumo; H Drs Turmudzi; K Syaifudin Romli; unsur DKM Kecamatan Poncokusumo; serta sejumlah tokoh NU dan tokoh masyarakat Kecamatan Poncokusumo.

Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa masjid masih memiliki posisi penting sebagai ruang sosial masyarakat.

Masjid bukan hanya tempat seseorang menunaikan kewajiban kepada Tuhan. Ia juga menjadi tempat orang bertemu dengan tetangga, mendengar nasihat, memperkuat silaturahmi, dan membangun kesadaran bersama.

Dalam masyarakat yang semakin sibuk dan individualistis, fungsi seperti itu justru semakin penting.

Antusiasme warga Belung dalam kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa kebutuhan manusia untuk berkumpul dan menemukan makna bersama belum hilang. Bahkan mungkin semakin dibutuhkan.

Menemukan kembali makna

Pada akhirnya, peringatan Nabi Muhammad SAW di Masjid Ar Ridlo Belung membawa pesan yang melampaui satu siang dan satu agenda.

Shalawat mengingatkan manusia kepada Nabi. Nabi mengingatkan manusia kepada akhlak. Dan akhlak mengembalikan manusia kepada pertanyaan paling sederhana sekaligus paling sulit: sudahkah keberagamaan membuat kita menjadi manusia yang lebih baik?

Pertanyaan itu tidak membutuhkan jawaban yang tergesa-gesa.

Ia cukup dibawa pulang dari masjid, menyertai langkah setelah shalat Jumat selesai, lalu perlahan diuji dalam kehidupan sehari-hari—di rumah, di tengah masyarakat, dalam pekerjaan, bahkan ketika berhadapan dengan orang yang berbeda pandangan.

Sebab, barangkali inti dari memperingati Nabi bukan hanya menjaga agar nama beliau tetap disebut dalam ingatan, tetapi memastikan nilai-nilai yang beliau ajarkan tetap hidup dalam perilaku manusia.

Dari sebuah masjid di Desa Belung, shalawat pun menemukan maknanya yang paling sederhana: mengingat Nabi, meneladani akhlaknya, dan merawat persaudaraan.

Example 300250
Example 120x600