Oleh: M. Harun – Ketua Umum PMB
JAKARTA | POROSNUSANTARA.COM Pidato Kebudayaan Tanggal 6 April 1977di di Taman Ismail Marzuki (TIM) – diisi oleh seorang Cendekiawan, Sastrawan dan Wartawan bernama Mochtar Lubis Beliau berani menampar muka bangsa ini dengan narasi yang mencengangkan sekaligus menyenangkan. Dalam pidato kebudayaannya yang dibukukan menjadi “Manusia Indonesia“, ia menyebut ada 6 penyakit kronis mental kita.
49 tahun kemudian, pidato itu masih terasa seperti hari ini. Relevensi Pidato Mochtar Lubis seolah berada di depan mata bangsa Indonesia. Penyakitnya belum sembuh. Bahkan mungkin lebih parah.
Mari kita bedah dengan pisau Al-Qur’an dan Sunnah.
1. MUNAFIK ATAU HIPOKRIT
> Apa yang diucapkan tidak sesuai perbuatan. Di masjid bicara amanah, di kantor korupsi.
Mochtar Lubis melihat kemunafikan sosial-politik sebagai ciri pertama.
Padahal Al-Qur’an sudah mengingatkan kita dengan keras:
“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sangat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. As-Shaff: 2-3)
Rasulullah SAW bersabda:
“Tanda orang munafik itu tiga: apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia ingkar, dan apabila diberi amanah ia khianat.” (HR. Bukhari-Muslim).
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menyebut munafik adalah penyakit hati paling berbahaya, karena merusak dari dalam. Inilah pangkal korupsi, politik pencitraan, dan janji kampanye palsu serta menghancurkan sendi-sendi sosial dan personal Manusia.
2. ENGGAN BERTANGGUNG JAWAB – BUDAYA “BUKAN SAYA”
> Lempar kesalahan, cari kambing hitam.
Ini mentalitas Bani Israil yang dikecam Al-Qur’an. Ketika diperintah, mereka menjawab bukan urusan kami. Padahal sikap bertanggung jawab dalam setiap perbuatan yang diberikan harus dipenuhi karena sikap ksatria dalam mengarungi kehidupan.
Allah berfirman: “Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya.” (QS. Al-Muddatstsir: 38)
Dan kaidah ushul fiqih: Tanggung jawab tidak gugur karena banyaknya pelaku.
Ulama besar Ibnu Qayyim Al-Jauziyah berkata:
“Kehancuran sebuah umat bermula ketika setiap orang merasa dirinya bukan bagian dari masalah.”
Lihatlah hari ini: pejabat gagal menjalankan program yang dicanangkan malah mebyalahkan rakyat, rakyat juga tak berani mengoreksinya.
3. BERSIFAT FEODAL – BUDAYA ASAL BAPAK SENANG (ABS)
> Suka dihormati, gila disanjung, menjilat atasan.
Ini adalah penyakit Firaun. Al-Qur’an mengabadikan mental feodal ini:
“Firaun berkata: Akulah Tuhanmu yang paling tinggi.” (QS. An-Nazi’at: 24) dan rakyatnya tunduk karena takut.
Rasulullah SAW memerangi feodalisme ini tuntas. Sabda beliau:
“Tidak ada keutamaan orang Arab atas non-Arab, kecuali dengan takwa.” (HR. Ahmad)
Saidina Umar bin Khattab pernah berkata keras kepada gubernurnya:
“Sejak kapan kamu memperbudak manusia, padahal ibu mereka melahirkan mereka dalam keadaan merdeka?”
Budaya ABS inilah yang melahirkan pemimpin anti kritik dan bawahan penjilat. Mental ABS dalam setiap level pekerjaan biang kehancuran dari sistem manapun.
4. PERCAYA TAKHAYUL – MISTIK MENGALAHKAN LOGIKA
> Masih percaya dukun, jimat, ramalan, padahal sudah sarjana.
Allah menyebut ini sebagai kesyirikan modern:
“Dan sesungguhnya mereka (para dukun) menambah dosa dan kesesatan.”
Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa mendatangi dukun atau peramal lalu membenarkan apa yang dikatakannya, maka sungguh ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad.” (HR. Ahmad)
Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa menegaskan:
“Umat yang masih terikat takhayul tidak akan pernah maju, karena ia menggantungkan nasib pada khayalan, bukan pada ikhtiar dan tawakal.”
Bagaimana mau mandiri ekonomi kalau masih percaya pesugihan? Dukun dalam wujud peramal dan lainnya membuat logika akal sehat terkalahkan dengan klenik dan ramalan yang menyesatkan.
5. ARTISTIK – JIWA SENI YANG TIDAK TERARAH
Ini satu-satunya sifat positif dari Mochtar Lubis. Manusia Indonesia memang berbakat seni, kreatif, peka keindahan.
Islam tidak anti seni. Islam mengarahkan seni untuk dakwah.
Al-Qur’an itu sendiri adalah puncak sastra. Rasulullah memelihara penyair seperti Hassan bin Tsabit.
Imam Al-Ghazali berkata: “Keindahan adalah jembatan menuju cinta kepada Allah.”
Masalah kita, artistik kita berhenti di tontonan, bukan tuntunan. Kita hebat bikin sinetron, tapi lemah bikin teknologi.
6. LEMAH WATAK – TIDAK PUNYA PENDIRIAN
> Mudah diombang-ambing, ikut angin, gampang menyerah.
Inilah yang disebut Al-Qur’an sebagai laa ilaa haa-ulaa wa laa ilaa haa-ulaa – tidak kesana tidak kesini.
“Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir), tidak masuk kepada golongan ini dan tidak pula kepada golongan itu.” (QS. An-Nisa: 143)
Rasulullah SAW mendidik sahabat berwatak baja: “Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.” (HR. Muslim).
Ulama besar Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menegaskan:
“Lemah watak adalah pintu masuk penjajahan. Bangsa yang wataknya lemah akan selalu dijajah, walau benderanya sudah merdeka.”
Dari Enam penyakit yang diangkat oleh Mochtar Lubis ini tidak bisa disembuhkan dengan seminar dan diskusi saja. Obatnya adalah kembali ke Tauhid Murni.
Munafik obatnya jujur (Shiddiq), tidak tanggung jawab obatnya amanah, feodal obatnya tauhid, persamaan, takhayul obatnya ilmu, lemah watak obatnya jihad.
(*PMB : Pena Muslim Bersatu)











