banner 728x250
OPINI  

Ketika Kecerdasan Intelektual Abai Pada Kecerdasan Spiritual

Oleh : Jacob Ereste

 

BANTEN  | POROSNUSANTARA.COM  – Kecerdasan intektual yang tidak disertai oleh kecerdasan spiritual deperti raga yang tidak punyai ruh, sehingga tidak ubahnya seperti jasad yang bernilai materi semata. Karena itu kecenderungan pada material lebih mendominasi hal-hal yang bersifat spiritial. Materialistik, ambisius, egoistis, ketamakan dan kerakusan yang liar, tidak terkendali. Itulah yang menimbulkan hasrat kekuasaan politik berlebih dibanding pengabdian untuk berbuat baik demi kemaslahatan umat manusia agar hidup harmoni, damai serta nyaman dengan sejahtera bersama, tiada abai pada keadilan, apalagi sampai harus merampas hak orang lain.

Jadi kecerdasan intekektual tiada akan mememiliki arti yang maksimal, bilamana tiada panduan dari kecerdasan spiritual yang dapat dan harus mengendalikan semua ambisi duniawi yang tidak terukur hingga ke liang kubur. Oleh karena itu, pameo tentang pengkhianatan kaum intelektual semakin nyata dan terang benderang mewarnai iklim politil, ekonomi bahkan sosial hingga budaya dan keagamaan yang telah dikomersialkan dalam bentuk produk yang diperjual-belikan tanpa perduli akan dosa, apalagi sekedar etika, moral dan akhlak yang sadar pada nilai-nilai kemuliaan manusia.

Akibat dari kecerdasan spiritual yang tidak terasah, telah menyebabkan menyebabkan kaum intelektual keblinger, tega melakukan kezaliman, penipuan, kebohongan, ingkat janji, manipulasi dan korup seperti ysng tampak jelas dilakukan oleh mereka bergelar akademis — apalagi yang palsu — tidak jujur terhadap dirinya sendiri. Dan yang lebih patah dari itu adalah mereka yang memanipulasi gelar atau predikat dalam menjastifikasi untuk memperoleh legitimasi diri — meski semua tampilannya itu adalah imitasi.

Tampilan palsu atau imitasi itu seperti dilakukan mulai dari perilaku — ucapan hingga perbuatan yang tidak sesuai dengan apa yang dikatakan. Sehingga sifat dan sikap penjilat, munafik, hipokrit — atau bahkan musyrik — menggadaikan keyakinan dan kepercayaan dirinya terhadap Tuhan, bisa dilakukan demi mencapai hasrat duniawinya yang terlanjur diyakini sebagai garansi dari kebahagiaan hidup diri dan keluarganya di dunia ini. Begitulah, ketika kecerdasan intekektual mengabaikan kecerdasan spiritual, hasrat dan kehendak manusia menjadi liar, tiada pengendali yang mampu menahan dan mengerem keinginan yang tiada batas hingga kandas dan terbujur di liang kubur.

Artinya, ketika kecerdasan intelektual pongah dan abai terhadap kecerfasan spiritual, manusia bisa menjadi seperti mesin perusak tanpa kendali, melumat apa saja yang ada di benak dan pikiran berdasarkan naluri hewani yang semakin jauh berjarak dengan nilai-nilai manusiawi sebagai makhluk Tuhan yang paling mulia di humi.

(Banten, 28 Februari 2026)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *