SUBANG | POROSNUSANTARA.COM – Majelis GAZA mendeskripsikan bahwa berdasarkan mubasyirat (Ru’ya Shalihah) mimpi benar, fenomena fase-fase berat yang terjadi pada tahun 2026 sebagai tahun permulaan terjadinya Disrupsi atau kekacauan hingga eskalasi konflik regional menuju polarisasi dunia.
Menurut ketua Majelis Gerakan Akhir Zaman ( GAZA), Diki Chandra Permana,MM,yang akrab disapa Kang Diki, dalam risalah Blueprint dan Roadmap Strategis Global,Maret 2026, serangkaian fase-fase berat tersebut akan membawa pada kesadaran dunia akan berakhirnya stabilitas yang lama.
FASE-FASE BERAT :
Dalam risalah tersebut diringkaskan bahwa tahun 2026 :
● Awal kekacauan terstruktur.
● Percepatan konflik
● Tekanan ekonomi Seleksi spiritual.
● Pembentukan komunitas inti.
● Persiapan perlindungan.
● Munculnya figur pemersatu skala terbatas.
Dalam model eskatologi, ini disebut fase berkumpulnya tanda-tanda (Phase of Convergence). Belum klimaks, namun dunia mulai bergerak menuju periode berat.
Dasar Mubasyiratnya — Banyak mimpi menggambarkan simbol :
● Pasukan bergerak.
● Masyarakat ketakutan.
● Langit gelap.
● Perpindahan manusia.
● Wilayah tertentu menjadi medan perang, dan lainnya.
Ini menunjukkan fase pra-malhamah, bukan perang final.
Dalam Qur’an telah dijelaskan: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia.” (QS. Ar-Rum: 41).
Makna akademiknya adalah kerusakan global adalah fenomena sistemik, bukan kebetulan. Dalam hal ini, terdapat hadits yang relevan.
Para sahabat bertanya: apa itu harj? Beliau menjawab: “pembunuhan, pembunuhan.” — HR.Bukhari no. 7062
● Prediksi 2026 — Zona berpotensi meningkat ketagangan dan perang :
■ Timur Tengah.
a Selatan. Laut China Selatan. Eropa Timur.
■ Catatan penting — Tahun 2026 kemungkinan menjadi pemicu perang dunia :
■ Terjadi perang lebih besar dari tahun sebelumnya. Perang proxy meningkat. Retorika nuklir naik.
Ini selaras dengan model geopolitik modern tentang Great Power Competition (persaingan antar negara adidaya)
■ Krisis Ekonomi Global Gelombang Baru. Dasar Mubasyiratnya
Simbol yang muncul berulang :
● Kekurangan.
● Antrean.
● Bangunan mewah kosong. ● Orang kehilangan pekerjaan.
● Tempat perlindungan sederhana. Dan lainnya.
Simbol klasik Ibnu Sirin: “Sempitnya tempat tinggal dalam mimpi isyarat kesempitan hidup.” (Rujukan: Muntakhab al-Kalam fi Tafsir al-Ahlam, cetakan Dar al-Ma’rifah). Dalam qur’an Allah sudah menjelaskan;
“Sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan, dan kekurangan harta.” — QS. Al-Baqarah : 155.
■ Proyeksi Risiko utama 2026:
● Utang banyak negara meningkat.
● Inflasi structural.
● Deglobalisasi.
● Supply chain terfragmentasi.
Banyak ekonom menyebut fase ini sebagai: “age of permanent instability.”
Dapat dirumuskan: Tradisi Islam menggambarkan sejarah manusia sebagai siklus bermakna yang bergerak melalui tekanan, diferensiasi spiritual, rekonstruksi sosial, dan akhirnya menuju stabilitas yang lebih adil.
Fenomena mubasyirat yang meningkat dapat dibaca sebagai bagian dari
[ ] kesadaran religius yang merespons dinamika tersebut. Ini adalah pembacaan arah, bukan prediksi mutlak.
SUMBER BLUEPRINT DAN ROADMAP SERTA AKHIR FASE BERAT
Blueprint bersumber nash dan mimpi- mimpi ini membawa kita pada satu pemahaman yang sangat tenang namun dalam: Dunia mungkin melewati fase-fase berat. Tetapi arah akhirnya dalam tradisi Islam adalah pemulihan keseimbangan, bukan kekacauan abadi.
Risalah Blueprint dan Roadmap berdasarkan Mubasyirat bahwa fase Disrupsi akan berujung pada fase pemulihan keseimbangan yang menekankan tidak ada kekacauan yang abadi.
“Dunia mungkin melewati fase-fase sangat berat. Tetapi arah akhirnya adalah pemulihan keseimbangan, bukan kekacauan abadi. Dengan kata lain, eskatologi
Islam pada dasarnya adalah narasi harapan yang matang, bukan ketakutan tanpa batas waktu,” katanya Kang Diki Senin, 9/3/2026.
Kang Diki menekankqn bahwa fase-fase berat tersebut adalah mekanisme transisi. Dia menyatakan, jika seluruh blueprint ini diringkas dalam satu kalimat formal:
“Sejarah, dalam perspektif Islam, adalah perjalanan terarah menuju pemurnian manusia dan tegaknya keadilan, sementara krisis berfungsi sebagai mekanisme transisi, bukan akhir dari
peradaban.”terang Kang Diki
PEMIKIRAN RISALAH BLUEPRINT DAN ROADMAP STRATEGIS GLOBAL
Kang Diki, lebih lanjut menjelaskan, pemikiran Blueprint dan Roadmap dalam dalam sebuah risalah :
“Secara visioner, risalah ini tidak dimaksudkan sebagai klaim kepastian, melainkan sebagai peta pemikiran, sebuah upaya merumuskan kemungkinan
arah dan kecenderungan kesadaran umat dalam menghadapi kompleksitas zaman. Ia bukan dokumen final, melainkan tawaran kerangka berpikir yang dapat diuji, dikritisi, dan dikembangkan secara ilmiah,” imbuhnya.
Sedangkan, lanjutnya, secara akademik, risalah ini kami batasi pada analisis fenomenologis dan konseptual. Secara sosial, kami menghindari sikap provokatif dan deterministik.
“Secara ruhani, kami mengajak semua pihak untuk menimbang fenomena dengan kebijaksanaan, kehati-hatian, dan ketundukan kepada ketentuan Allah yang Maha Mengetahui segala rahasia zaman,”pungkasnya. (dar)














