banner 728x250

Petugas Kebersihan Cedera di PGC, Pengawasan K3 Dipertanyakan

Foto: Ilustrasi kecelakaan kerja di PGC, Jakarta Timur. (Dok-Istimewa)

JAKARTA, POROSNUSANTARA.COM – Kecelakaan kerja kembali terjadi di ruang publik Ibu Kota. Seorang petugas kebersihan berusia 25 tahun, Tarmizi Taher, mengalami kecelakaan saat menjalankan tugas pembersihan kaca di Gedung Pusat Grosir Cililitan (PGC), Jakarta Timur, Selasa (20/1/2026) sekitar pukul 10.00 WIB. Insiden tersebut mengakibatkan korban mengalami cedera pada bagian tangan dan harus menjalani tindakan operasi di RSUD Budhi Asih.

Peristiwa itu pertama kali diketahui publik melalui keterangan pengunjung yang berada di sekitar lokasi. Korban dilaporkan terjatuh di area depan jalur Busway PGC, tepatnya di kawasan terminal gedung. Ketinggian lokasi kerja diperkirakan mencapai sekitar tiga meter.

Berdasarkan informasi awal, korban saat itu tengah membersihkan kaca bangunan ketika kecelakaan terjadi. Insiden tersebut langsung menarik perhatian pengunjung dan petugas sekitar, mengingat lokasi kejadian berada di kawasan dengan mobilitas publik yang cukup tinggi.

Untuk memastikan kronologi dan tanggung jawab pengelola, awak media mencoba mengonfirmasi pihak manajemen PGC. General Manager PT Prima Graha Citra selaku pengelola gedung, Akub Sudarsa, sempat dihubungi melalui pesan singkat namun belum memberikan respons. Saat dihubungi melalui sambungan telepon pada Rabu (21/1/2026), Akub menyampaikan bahwa dirinya sedang berada di luar kota.

“Saya sedang di luar daerah. Silakan datang langsung ke kantor dan temui perwakilan kami, Pak Maruli,” ujarnya singkat.

Awak media kemudian mendatangi kantor pengelola PGC di lantai 6 Gedung PGC, Jalan Mayjen Sutoyo No. 76, Kramat Jati, Jakarta Timur. Di lokasi tersebut, media bertemu dengan Maruli, selaku CR dan HK Manager PT Prima Graha Citra.

Maruli membenarkan adanya kecelakaan kerja yang menimpa petugas kebersihan tersebut. Namun, ia menepis informasi yang menyebut korban terjatuh dari gondola.

“Kejadiannya bukan dari gondola, melainkan saat menggunakan tangga. Saat itu, tangga yang dipakai korban terlepas dari pegangan rekan kerja yang berada di bawah,” jelas Maruli.

Ia menambahkan, penggunaan gondola tidak memungkinkan dilakukan di titik tersebut karena kondisi ruang yang terbatas dan terhalang struktur bangunan. Oleh sebab itu, pembersihan kaca dilakukan menggunakan tangga sesuai dengan prosedur kerja yang diterapkan di area terminal gedung.

Pasca kejadian, korban langsung mendapatkan pertolongan pertama di lokasi. Tim pengelola kemudian segera mengevakuasi korban ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis lanjutan.

“Awalnya kami berencana membawa korban ke RS UKI. Namun karena alat scanning di sana sedang tidak tersedia, kami diarahkan untuk langsung ke RSUD Budhi Asih,” ungkapnya.

Di RSUD Budhi Asih, korban menjalani serangkaian pemeriksaan medis, mulai dari rontgen hingga CT scan. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya retakan pada tulang tangan, sehingga dokter merekomendasikan tindakan operasi pemasangan pen.

Maruli mengungkapkan, pada awalnya keluarga korban sempat menyampaikan kekhawatiran dan menolak tindakan operasi karena takut korban kehilangan pekerjaannya.

“Keluarga khawatir setelah operasi korban tidak bisa bekerja lagi. Kami jelaskan bahwa retak tulangnya ringan dan tidak berdampak pada status pekerjaannya. Setelah mendapat penjelasan, keluarga akhirnya menyetujui operasi,” jelasnya.

Operasi pemasangan pen tersebut dilakukan pada Rabu (21/1/2026) sekitar pukul 11.00 WIB. Seluruh biaya pengobatan, mulai dari perawatan hingga tindakan operasi, ditanggung sepenuhnya oleh pihak perusahaan dan mitra kerja.

Pihak pengelola memastikan bahwa korban tetap memiliki jaminan pekerjaan. Setelah menjalani masa pemulihan, korban akan kembali bekerja dengan penyesuaian tugas sesuai kondisi kesehatannya.

“Kemungkinan hanya perlu istirahat beberapa hari. Setelah itu bisa kembali bekerja, sementara dialihkan ke pekerjaan yang lebih ringan,” kata Maruli.

Sementara itu, Koordinator PT Carefast Indonesia, Andi, selaku perusahaan penyedia jasa housekeeping di PGC, turut memberikan keterangan. Ia menyebutkan bahwa PT Carefast mulai beroperasi di PGC sejak 1 Mei 2025 dengan total 69 personel yang bertugas di berbagai bidang, mulai dari indoor, gondola, landscape, toilet, hingga area halaman.

Menurut Andi, pekerjaan pembersihan kaca di area terminal mezzanine memang tidak memungkinkan menggunakan gondola karena ruang tertutup dan adanya dinding pembatas.

“Untuk area tersebut, prosedur yang digunakan adalah tangga. Ketinggiannya sekitar dua meter lebih dan tidak dapat dijangkau gondola,” jelasnya.

Ia mengaku tidak berada langsung di lokasi saat kejadian karena sedang mengikuti agenda pelatihan dari kantor pusat. Namun, begitu menerima laporan, ia langsung menuju lokasi kejadian dan mendampingi korban hingga proses medis di rumah sakit.

“Saya dampingi korban dari UGD, rontgen beberapa kali, CT scan, sampai akhirnya mendapatkan kamar perawatan dan dijadwalkan operasi,” tuturnya.

Pihak pengelola PGC menegaskan bahwa insiden ini menjadi bahan evaluasi serius, baik bagi manajemen gedung maupun seluruh mitra kerja. Penegakan Standar Operasional Prosedur (SOP) serta Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) akan diperketat guna mencegah kejadian serupa terulang.

“Keselamatan adalah prioritas utama. Tidak hanya pekerjaan berisiko tinggi seperti gondola, pekerjaan sederhana pun harus mengikuti prosedur yang benar demi keselamatan pekerja dan pengunjung,” tegas Maruli.

Hingga berita ini diturunkan, korban masih menjalani masa pemulihan pascaoperasi di RSUD Budhi Asih. Pihak pengelola menyatakan akan terus memantau kondisi korban dan melakukan evaluasi internal sebagai langkah pencegahan ke depan.

(Ayu Andriani)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *