KALBAR, KUBURAYA
POROSNUSANTARA.COM – Seperti berteriak dalam gelap tanpa ada yang menggubris, itulah perasaan yang dialami oleh PN, seorang pelanggan setia IndiHome, ketika koneksi internet rumahnya tiba-tiba lenyap tanpa penjelasan. Meski telah melaporkan g
angguan sejak 22 Mei 2025, hingga hari keempat ini tak ada tindak lanjut dari pihak penyedia layanan.
Yang membuat luka pelanggan ini kian dalam, ia baru saja melunasi tagihan bulanannya. Namun, alih-alih mendapat layanan maksimal, ia justru terperangkap dalam keheningan digital tanpa kejelasan.
“Saya kecewa sekali. Sudah bayar, tapi layanan seperti ini? Ke mana para teknisinya?” ungkap PN dengan suara getir, mencerminkan kekecewaan yang mendalam atas pelayanan yang dinilainya tidak profesional.
PN telah mengikuti s
eluruh prosedur resmi pelaporan, namun respons dari pihak IndiHome nihil—tidak ada teknisi yang datang, tidak ada kabar yang diberikan, dan tentu saja, tidak ada solusi yang dirasakan.
Masalah ini mempertegas keluhan klasik yang kerap menghantui pelanggan layanan digital di Indonesia: lemahnya respons terhadap gangguan teknis. Ironisnya, hal ini terjadi di tengah dominasi IndiHome sebagai salah satu penyedia layanan internet terbesar di tanah air.
Dalam era digital saat ini, internet bukan lagi sekadar kebutuhan tambahan. Ia adalah tulang punggung produktivitas—untuk bekerja, belajar, hingga menjalankan bisnis. Karena itu, layanan yang cepat dan tanggap bukanlah kemewahan, melainkan keharusan.
PN berharap keluhannya bisa menjadi cambuk perubahan. Ia menginginkan tindakan nyata, bukan sekadar janji manis. “Kami butuh layanan, bukan alasan,” ujarnya singkat namun tajam.
Jika perusahaan sebesar IndiHome saja tak mampu menjamin kualitas pelayanan, lalu ke mana lagi pelanggan harus berharap?[AZ]














