Tag: #Tojo Una-Una

  • Dugaan Prosedur Cacat: Oknum Satpol PP Tojo Una-Una Picu Ketegangan dengan Warga Terkait Larangan Jual ‘Barito’

    Dugaan Prosedur Cacat: Oknum Satpol PP Tojo Una-Una Picu Ketegangan dengan Warga Terkait Larangan Jual ‘Barito’

    TOJO UNA-UNA | POROSNUSANTARA.COM – Ketegangan menyelimuti suasana pemukiman warga di Kabupaten Tojo Una-Una selama dua hari berturut-turut. Ketegangan ini dipicu oleh tindakan oknum Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang diduga menjalankan tugas tanpa mengikuti prosedur resmi (cacat prosedural)

    Saat melakukan penertiban terhadap pedagang sembako dan bumbu dapur, atau yang akrab disebut “Barito” (Bawang, Rica, Tomat).
    Peristiwa yang mewarnai hari Jumat, 24 April, hingga Sabtu, 26 April 2026 ini, terjadi adu mulut sengit antara petugas dan pemilik lapak.

    Warga merasa keberatan lantaran pihak Satpol PP melarang mereka menyatukan penjualan sembako dengan komoditas Barito di rumah mereka sendiri.

    Penertiban Tanpa Surat Tugas
    Ketegangan memuncak ketika warga mempertanyakan legalitas operasional para petugas.

    Berdasarkan keterangan di lapangan, pemilik lapak sempat meminta petugas menunjukkan surat tugas resmi sebagai dasar tindakan mereka.

    Namun, hingga aksi berakhir, oknum petugas tersebut dilaporkan tidak mampu menunjukkan dokumen yang diminta.

    Muhamad Adnan, salah satu warga yang terdampak, mengungkapkan keluh kesahnya dengan nada lirih. Ia merasa ruang gerak rakyat kecil untuk mencari nafkah halal kian dipersempit.

    “Kami sebagai masyarakat hanya mencari sesuap nasi. Kami mohon usaha kami jangan diganggu.Kami tidak menjual barang-barang yang terlarang,” ujar Adnan di hadapan petugas.

    Polemik Hak Milik dan Lokasi Jualan

    Nada bicara petugas yang dianggap arogan memancing reaksi keras dari pemilik lapak lainnya, Heri Kalube. Ia membantah tuduhan Kasat Satpol PP yang menyatakan aktivitas dagangnya menyalahi aturan. Sebagai bentuk protes atas tekanan tersebut, Heri bahkan sempat menyodorkan sertifikat rumahnya kepada petugas.

    “Kalau tidak dibenarkan dan dianggap salah menjual bawang, rica, tomat (Barito) di sini, sebaiknya kalian bayar saja rumah kami ini, sekalian dengan sertifikatnya,” tegas Heri sambil menyodorkan bukti kepemilikan tanahnya.

    Di sisi lain, Kasat Satpol PP berdalih bahwa pemerintah telah menyediakan tempat khusus di dalam pasar untuk menjual komoditas Barito.

    “Kami tidak melarang kalian menjual Barito, tapi sebaiknya bukan di sini, melainkan di dalam pasar yang sudah disediakan pemerintah,” ujar Kasat Satpol PP dengan nada yang menurut warga kurang bersahabat.

    Keresahan Warga: “Pasar Tidak Gratis”

    Himbauan pemerintah agar warga pindah ke dalam pasar justru memicu keheranan. Warga merasa tindakan ini tidak adil karena mereka berjualan di atas tanah milik sendiri, sementara lapak yang disediakan pemerintah di dalam pasar mengharuskan pedagang membayar biaya sewa atau retribusi, bukan diberikan secara gratis.

    Tindakan Satpol PP Tojo Una-Una ini dinilai sangat meresahkan dan diskriminatif terhadap pelaku usaha kecil yang mencoba bertahan hidup di tengah himpitan ekonomi.

    Hingga berita ini diturunkan, warga berharap ada mediasi yang lebih manusiawi dan transparansi prosedur dari pihak penegak perda agar tidak ada lagi aksi “koboi” di lapangan tanpa dasar surat tugas yang jelas.

    (Ahmad Tuliabu)

  • Keajaiban Alam Tojo Una-Una: Kilatan Api Abadi Tanjung Api dan Kesegaran Alami Mata Air Uempamaja

    Keajaiban Alam Tojo Una-Una: Kilatan Api Abadi Tanjung Api dan Kesegaran Alami Mata Air Uempamaja

    AMPANA TETE | POROSNUSANTARA.COM — Bumi Tojo Una-Una di Provinsi Sulawesi Tengah seakan tidak pernah kehabisan cara untuk memukau siapa saja yang datang berkunjung.

    Di Kecamatan Ampana Tete, alam mempersembahkan dua fenomena menakjubkan yang menjadi bukti betapa kayanya bumi sintuwu maroso ini. Mulai dari lidah api yang menari di atas bebatuan pesisir, hingga tetesan air murni yang memancar langsung dari jantung bumi.
    Cahaya Abadi di Pesisir Tanjung Api
    Di sebuah tanjung yang menjorok ke lautan luas, tersimpan sebuah fenomena langka yang sangat memikat.

    Dari sela-sela bebatuan karang di pinggir pantai, menyembul lidah-lidah api yang menyala secara alami. Api ini keluar langsung dari perut bumi tanpa pernah padam oleh embusan angin laut. Keunikan ini dimanfaatkan oleh para pengunjung maupun warga sekitar untuk sekadar memasak atau menjadikannya tontonan yang magis saat senja tiba.

    Keajaiban tidak berhenti di situ. Jika Anda melayangkan pandangan ke arah permukaan air laut di sekitarnya, tampak gelembung-gelembung udara yang muncul ke permukaan. Air laut tersebut terlihat seperti sedang mendidih, menciptakan sebuah harmoni alam yang luar biasa antara elemen api dan air. Keunikan alam yang tiada duanya inilah yang menginspirasi penamaan gerbang udara kebanggaan daerah ini, yaitu Bandar Udara Tanjung Api.

    Kesegaran Alami Uempamaja di Desa Uetoli
    Bergerak sedikit ke Desa Uetoli, keajaiban alam lainnya menyambut dengan kesejukan yang kontras. Di sini, sebuah mata air bersih memancar langsung dari dalam bumi tanpa henti. Berdasarkan hasil penelitian yang pernah dilakukan, air ini memiliki tingkat kemurnian yang sangat tinggi sehingga aman untuk langsung dikonsumsi tanpa harus melalui proses pengolahan atau dimasak terlebih dahulu.

    Masyarakat lokal menamai tempat indah ini sebagai Wisata Alam Uempamaja. Kata “Ue” sendiri diambil dari bahasa daerah setempat yang berarti air. Tempat ini menawarkan ketenangan luar biasa bagi siapa saja yang ingin melepas penat dari hiruk-pikuk rutinitas sehari-hari.
    Pesona Swadaya yang Memikat Hati
    Meski menyimpan potensi pariwisata yang sangat besar, kawasan wisata Uempamaja saat ini masih memiliki beberapa keterbatasan infrastruktur. Hal ini dikarenakan pengelolaannya masih bersifat pribadi oleh pemilik lahan tanpa adanya campur tangan penuh atau bantuan fasilitas dari Pemerintah Daerah setempat.

    Namun, keterbatasan tersebut sama sekali tidak menyurutkan niat masyarakat untuk terus berdatangan. Suasana alami yang masih asri dan biaya masuk yang sangat merakyat menjadi daya tarik utama yang sulit ditolak.
    “Kami sangat senang berkunjung ke tempat ini. Yang sangat menarik bagi kami para pengunjung adalah suasananya yang sangat adem dan sejuk. Selain itu, biaya uang masuknya juga sangat terjangkau bagi semua kalangan,” ungkap salah seorang pengunjung dengan antusias saat diwawancarai oleh wartawan di lokasi wisata.

    Uempamaja dan Tanjung Api adalah potongan surga kecil di Ampana Tete. Kombinasi antara fenomena geologi yang unik dan kesegaran alam yang murni membuat tempat ini sangat layak untuk terus dijaga kelestariannya, sekaligus menanti sentuhan pengembangan yang lebih baik di masa depan.

    Poin Kunci:
    Tanjung Api: Api abadi di sela batu dan air laut bergelembung (diabadikan sebagai nama Bandara).
    Uempamaja: Mata air murni yang bisa langsung diminum tanpa dimasak di Desa Uetoli.
    Daya Tarik: Suasana adem, alami, dan harga tiket masuk yang sangat murah.

    (Ahmad Tuliabu).

  • Oknum Sekuriti di Tojo Una-Una Tikam Rekan Kerja Hingga Tewas

    Oknum Sekuriti di Tojo Una-Una Tikam Rekan Kerja Hingga Tewas

    TOUNA | POROSNUSANTARA.COM – Tragedi berdarah terjadi di kawasan wisata Pakang Beach, Desa Sabo, Kecamatan Ampana Tete, Kabupaten Tojo Una-Una pada Sabtu (7/3/2026) pagi.

    Seorang karyawan perempuan bernama Rindi Antika tewas setelah ditikam secara membabi buta oleh rekan kerjanya sendiri, NYT, yang bertugas sebagai petugas keamanan (sekuriti).

    Kapolres Tojo Una-Una, AKBP Yanna Djayawidya, SIK.MH, melalui Kasi Humas Iptu Martono, membeberkan kronologi insiden yang dipicu oleh perselisihan saat apel pagi tersebut.

    Peristiwa bermula sekitar pukul 08.30 WITA saat pelaku memimpin apel pergantian sif pagi. Berdasarkan keterangan kepolisian, pelaku merasa geram karena korban dianggap tidak serius dan terus bermain ponsel saat instruksi diberikan.

    Pelaku menegur korban yang merupakan karyawan Pakang Beach karena sering bermain HP dan tidak serius saat apel,” ujar Iptu Martono dalam pernyataan resminya.

    Situasi memanas ketika korban hendak meninggalkan lokasi tanpa izin pelaku. Saat itu, korban yang sudah berada di atas sepeda motor sempat membantah teguran pelaku hingga terjadi adu mulut yang hebat.

    Pelaku yang sudah emosi kemudian mencabut badik dari pinggang kirinya dan langsung menikam korban ke arah perut hingga jatuh. Pelaku lalu menikam korban secara berulang kali,” lanjut Martono.

    Akibat serangan tersebut, korban menderita sedikitnya delapan luka tusukan di sekujur tubuh. Meski sempat dilarikan ke Puskesmas Ampana Tete untuk mendapatkan pertolongan medis, nyawa Rindi Antika tidak tertolong dan dinyatakan meninggal dunia.

    Usai melancarkan aksinya, Naldi sempat melarikan diri untuk bersembunyi. Namun, pelariannya tak berlangsung lama. Tim kepolisian berhasil melacak keberadaan pelaku dalam waktu singkat.

    Pada jam 09.58 WITA, pelaku berhasil ditangkap dan diamankan bersama barang bukti sebilah badik di Desa Kajulangko. Pelaku ditangkap saat sedang bersembunyi di rumah keluarganya,” tutup Kasi Humas.

    Saat ini, pelaku beserta barang bukti telah diamankan di Mapolres Tojo Una-Una untuk menjalani proses hukum lebih lanjut.