Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
ARTIKEL

ILMU DAN ADAB: CAHAYA YANG TAK BOLEH BERPISAH

Poros Nusantara
33
×

ILMU DAN ADAB: CAHAYA YANG TAK BOLEH BERPISAH

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Oleh: M.Harun  (Ketua Umum Pena Muslim Bersatu (PMB)

 

Example 300x600

JAKARTA  | POROSNUSANTARA.COM  – Dalam khazanah Islam, ada dua kata yang selalu disebut dalam satu tarikan napas: ilmu dan adab. Keduanya mulia, keduanya cahaya. Namun sejarah membuktikan, banyak orang yang tenggelam bukan karena bodoh, melainkan karena berilmu tanpa adab.

Ada satu kalimat pendek yang dihafal anak-anak di surau, tapi maknanya menggetarkan arsy: *Al-Ilmu Nurun. Ilmu itu cahaya.* Tanpa cahaya, manusia meraba-raba dalam gelap. Tanpa ilmu, seorang Muslim berjalan tanpa arah, menyembah tanpa kenal siapa yang disembah, dan hidup tanpa tahu untuk apa ia dihidupkan.

Esensi Ilmu: Mengenal Allah dan Memanusiakan Manusia

Ilmu atau ‘ilm secara bahasa berarti kejelasan dari kegelapan. Imam Al-Ghazali mendefinisikannya sebagai sesuatu yang dengannya hakikat segala sesuatu menjadi jelas.

Dalam perspektif Islam, ilmu bukan sekadar kumpulan teori di kepala. Ilmu adalah jalan untuk mengenal Allah. Itulah esensi tertinggi ilmu. Imam Al-Ghazali membagi ilmu menjadi dua: ilmu yang fardhu ain untuk keselamatan akhirat seperti ilmu tauhid, fiqih ibadah, dan tazkiyatun nafs, serta ilmu fardhu kifayah untuk kemaslahatan dunia seperti kedokteran, pertanian, dan teknologi.

Keduanya mulia, selama niatnya untuk Allah. Karena itu, Allah tidak pernah memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk meminta tambahan harta atau jabatan. Satu-satunya tambahan yang Allah perintahkan untuk diminta Rasulullah adalah ilmu.

“Dan katakanlah: Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (QS. Thaha: 114).

Allah juga mengangkat derajat orang berilmu, sebagaimana firman-Nya:

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”_ (QS. Al-Mujadilah: 11).

Tetapi cahaya itu butuh wadah agar tidak menyilaukan dan membakar. Wadah itu bernama adab. Adab adalah cara kita meletakkan segala sesuatu pada tempatnya dengan penuh rasa hormat. Adab kepada Allah dengan takwa, adab kepada Rasulullah dengan mengikuti sunnahnya, adab kepada guru dengan tawadhu, dan adab kepada sesama dengan rahmah.

Urgensi Ilmu: Kewajiban Seumur Hidup Bagi Laki-Laki dan Perempuan

Islam menjadikan menuntut ilmu bukan sebagai hobi atau pilihan, melainkan kewajiban yang mengikat bagi setiap jiwa.

Rasulullah SAW bersabda dengan tegas:

Thalabul ‘ilmi faridhatun ‘ala kulli Muslimin wa Muslimatin

“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim laki-laki dan Muslim perempuan.” (HR. Ibnu Majah).

Hadits ini adalah deklarasi kesetaraan yang paling agung. Jauh sebelum dunia Barat berbicara tentang emansipasi, Islam sudah mewajibkan perempuan untuk berilmu. Aisyah r.a. menjadi ulama besar dan perawi hadits terbanyak. Al-Syifa binti Abdullah menjadi guru baca tulis di zaman Umar bin Khattab. Karena tanpa ilmu, seorang ibu tidak akan mampu mendidik generasi.

Dan kewajiban itu tidak mengenal kata pensiun. Kita diperintahkan untuk belajar sepanjang hayat. Ulama sering mengutip sebuah hikmah yang sangat populer di pesantren-pesantren:

Uthlubul ‘ilma minal mahdi ilal lahdi
“Tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahat.”

Meski secara sanad hadits ini diperbincangkan, namun maknanya benar dan diamalkan para ulama. Ketika Imam Ahmad bin Hanbal ditanya sampai kapan menuntut ilmu, beliau menjawab sambil membawa wadah tintanya:

“Dari buaian hingga aku masuk ke liang kubur.”

Imam Bukhari mengumpulkan 600.000 hadits di usia 16 tahun dan tetap belajar hingga wafatnya. Imam Nawawi menulis puluhan kitab dan menghabiskan seluruh hidupnya untuk ilmu. Itulah urgensi ilmu, karena dengan ilmu, ibadah kita menjadi sah. Tanpa ilmu, shalat kita bisa batal tanpa kita tahu.

Para ulama salaf sangat keras dalam soal ini. Bagi mereka, adab didahulukan sebelum ilmu.

Abdullah bin Mubarak, seorang ulama besar Tabi’in berkata: “Kami mempelajari masalah adab itu 30 tahun, sedangkan kami mempelajari ilmu 20 tahun.”

Bahkan, Imam Malik bin Anas, guru Imam Syafi’i, pernah berpesan kepada seorang pemuda Quraisy:

“Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.”

Mengapa begitu? Karena ilmu tanpa adab akan melahirkan kesombongan. Iblis adalah makhluk paling berilmu tentang surga dan neraka, tetapi ia dilaknat karena tidak beradab di hadapan perintah Allah. Firaun itu pintar mengatur negara, Qarun itu jenius mengelola harta, tapi keduanya binasa karena tidak punya adab kepada Allah.

Imam Syafi’i pun mengingatkan dengan syairnya yang indah:

Ta’allam falaisal mar’u yuuladu ‘aaliman Wa laisa akhul ‘ilmi kaman huwa jaahilun 
Belajarlah, karena tidak ada manusia yang dilahirkan dalam keadaan berilmu. Dan tidaklah orang yang berilmu seperti orang yang bodoh.

Yusuf bin Al-Husain menambahkan:

“Dengan adab, engkau akan memahami ilmu. Dengan ilmu, amalmu akan lurus.”

Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitabnya Al-Fath Ar-Rabbani berkata: “Wahai anakku, jangan kau tertipu dengan banyaknya buku dan banyaknya riwayat. Ilmu itu bukan dengan banyaknya hafalan, tapi cahaya yang Allah campakkan ke dalam hati.” Dan cahaya itu hanya mau singgah di hati yang beradab.

Jika ulama berbicara dengan dalil, maka sastrawan berbicara dengan rasa.

Jalaluddin Rumi, sang penyair sufi besar dari Konya, berkata:

“Adab adalah permata yang membedakan manusia dengan hewan. Ilmu tanpa adab bagaikan lentera di tangan pencuri, bukan menerangi jalan, tapi untuk membobol rumah orang.”

Hamka, sastrawan dan ulama besar Nusantara, dalam Tasawuf Modern menulis:

“Ilmu adalah kekayaan yang tidak akan habis, tetapi adab adalah perhiasan yang membuat kekayaan itu indah dipandang.”

Dalam Falsafah Hidup, ia juga menulis:

“Ilmu tanpa adab seperti api tidak terkendali, adab tanpa ilmu seperti jasad tidak bernyawa.”

Kahlil Gibran pernah menulis: “Kesombongan seorang sarjana adalah selubung kebodohannya.” Itulah ilmu yang kehilangan adab.

Dan Pramoedya Ananta Toer meski dalam konteks sekuler, relevan dengan ini:

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dari sejarah. Dan selama ia tidak beradab, tulisannya akan hilang dari kemanusiaan.”

Sinergi yang Melahirkan Insan Kamil

Ilmu tanpa adab bagaikan api tanpa tungku, membakar siapa saja. Adab tanpa ilmu bagaikan tungku tanpa api, dingin dan tak memberi manfaat.

Lihatlah Rasulullah SAW. Allah tidak memuji kepintarannya terlebih dahulu, tapi memuji adabnya:

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4).

Maka, seorang Muslim yang sempurna adalah ia yang ilmunya membuat ia semakin tunduk, bukan semakin tinggi kepala. Semakin berilmu, semakin ia merasa bodoh di hadapan Allah.

Sebagaimana pesan Ibnul Mubarak yang sangat terkenal dan menjadi kaidah emas:

> “Kami lebih membutuhkan adab yang sedikit daripada ilmu yang banyak.”

Hari ini, kita tidak kekurangan orang pintar. Kita kekurangan orang beradab. Dunia tidak kekurangan sarjana, tapi kekurangan manusia yang memanusiakan manusia karena ilmunya.

Hari ini kita hidup di zaman di mana informasi berlimpah, tetapi cahaya semakin redup. Banyak yang tahu dalil, tapi sedikit yang beradab dalam berbeda pendapat.

Pena Muslim Bersatu (PMB) hadir ingin mengembalikan esensi itu. Bahwa pena kita adalah cahaya. Tulislah untuk menerangi, bukan untuk membakar. Menulislah karena Allah, bukan karena ingin dipuji manusia. Mari kita hidupkan kembali semangat Al-Ilmu Nurun. Belajarlah, wahai Muslim dan Muslimah, dari buaian hingga liang lahat. Karena hanya dengan ilmu, kita kenal siapa Tuhan kita, dan hanya dengan adab, ilmu itu menjadi berkah.

> “Jika seorang manusia meninggal, terputus amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim).

Semoga tulisan kita termasuk ilmu yang bermanfaat itu. Wallahu a’lam bish-shawab.

Example 300250
Example 120x600