BENGKULU SELATAN | POROSNUSANTARA.COM – Perwakilan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Sukarami, Bobi, akhirnya angkat bicara saat ditemui awak media porosnusantara.com pada hari Senin 08 Juni 2026 di sela kesibukannya di kediamannya. Ia menyampaikan rasa kecewa sekaligus keheranannya, karena sampai saat ini pengurus BUMDes Sukarami belum pernah menyampaikan laporan keuangan maupun menyetorkan kontribusi Pendapatan Asli Desa (PAD). Padahal, salah satu unit usaha utama mereka, kandang ayam petelur, diketahui sudah beroperasi dan menghasilkan produksi selama hampir satu tahun.
Usaha peternakan ayam petelur tersebut memang telah dianggarkan dalam APBDes tahun 2025 dengan biaya mencapai sekitar Rp.200.000.000. Namun hingga saat ini, belum ada laporan pertanggungjawaban yang disampaikan. Masyarakat maupun pihak terkait pun belum mengetahui secara pasti apakah usaha tersebut menghasilkan keuntungan atau justru mengalami kerugian.
Berikut adalah pernyataan lengkap yang disampaikan Bobi kepada awak media:
“Kami dari pihak BPD sudah sangat lama menunggu kejelasan soal ini. Sejak BUMDes Sukarami berdiri sampai sekarang, belum ada sama sekali laporan keuangan yang diserahkan kepada kami maupun dibuka untuk masyarakat. Padahal salah satu usahanya itu kandang ayam petelur yang berdiri di atas lahan milik Kepala Desa, tepatnya di kawasan Batu Balai. Unit usaha ini sudah berproduksi hampir setahun lamanya, tapi kami belum menerima satu lembarpun dokumen pertanggungjawabannya.”
Bobi menjelaskan, meskipun dirinya belum pernah berbicara atau bertanya langsung kepada Ketua BUMDes, Saudara Nop, pihaknya sudah pernah menyampaikan hal ini kepada anggota pengurus BUMDes. Ia meminta agar segera dilaporkan bagaimana hasil usaha tersebut, apakah untung atau justru rugi. Namun, hingga kini belum ada jawaban maupun laporan tertulis yang diterima.
“Saya memang belum bertanya langsung ke Ketua BUMDes, Saudara Nop. Tapi kami sudah menyampaikan hal ini kepada anggota pengurus, menanyakan untung berapa, rugi berapa, berapa hasil bersihnya. Sayangnya, sampai detik ini belum ada jawaban dan belum ada laporan tertulis sama sekali. Padahal ini aset milik desa, modalnya berasal dari anggaran desa tahun 2025 untuk kepentingan warga, dan tujuannya jelas sekali untuk menambah pendapatan desa. Kalau tidak ada laporan, kami selaku wakil warga tidak bisa menjalankan tugas pengawasan, dan kami juga tidak bisa menjelaskan ke masyarakat, usaha ini berjalan baik atau justru merugi,” tegas Bobi.
Kondisi ini makin menyulitkan posisi BPD, mengingat sudah banyak warga yang mulai bertanya langsung mengenai kinerja lembaga ekonomi desa tersebut.
“Faktanya, sudah ada beberapa elemen masyarakat yang bertanya langsung ke saya selaku anggota BPD soal keberadaan dan kinerja BUMDes ini. Tapi apa yang bisa saya jelaskan? Saya saja tidak dapat laporan apa pun dari pengurus, dalam hal ini Ketua BUMDes Saudara Nop. Akibatnya, kami tidak bisa memberi jawaban yang pasti dan terbuka kepada warga yang kami wakili,” ungkapnya.
Menurut Bobi, kewajiban menyampaikan laporan keuangan dan hasil usaha adalah hal paling dasar yang wajib dilakukan oleh lembaga ekonomi milik desa. Tanpa laporan tersebut, kinerja BUMDes tidak bisa diukur, manfaatnya bagi masyarakat menjadi tidak jelas, dan sulit untuk dipertanggungjawabkan ke publik.
“Sudah hampir setahun berproduksi, masa belum ada satu lembar laporan pun? Kami minta transparansi, kami minta pertanggungjawaban yang nyata. Jangan sampai usaha yang diharapkan bisa mengangkat ekonomi desa malah jadi tanda tanya besar di tengah masyarakat. Kami tetap menunggu dan berharap laporan itu segera diserahkan, supaya semuanya jelas dan tidak ada yang ditutup-tutupi,” pungkas Bobi.
Sementara itu, Hendra Jaya selaku pengurus sekaligus penjaga kandang ayam petelur BUMDes Desa Sukarami saat dikonfirmasi awak media porosnusantara.com melalui pesan singkat WhatsApp, belum dapat memberikan keterangan lebih lanjut. Ia menyatakan akan terlebih dahulu menyampaikannya kepada ketua sebelum memberikan penjelasan.
“Untuk keterangan soal itu, saya belum bisa menyampaikannya sekarang. Nanti saya sampaikan dulu sama ketua, baru saya kabari lagi,” ujar Hendra singkat.
(Sulaiman).



















