Inisiator LAKP Susun Raperda untuk Kokohkan Kirab Budaya dan Living Law Nusantara

PRABUMULIH |POROSNUSANTARA.COM – Di tengah masyarakat Kota Prabumulih yang heterogen dan majemuk, semangat persatuan kembali digaungkan melalui kearifan lokal. Tim Poros Nusantara berkesempatan menemui Hanafi, inisiator Lembaga Adat Kota Prabumulih (LAKP) , di kediamannya di Perumahan Citra Pelangi Indah (CPI), Kecamatan Prabumulih Timur, pada Jumat (17/4/2026).
Lembaga yang baru berdiri sejak 6 Januari 2026 ini hadir bukan untuk menyeragamkan, melainkan merangkai perbedaan. Bapak Hanafi menjelaskan bahwa napak tilas budaya Prabumulih tidak lepas dari peran “Puyang” atau leluhur. Namun di era modern dengan komposisi warga yang terdiri dari berbagai suku dan ras, diperlukan fondasi yang lebih kokoh: Bhinneka Tunggal Ika dalam bingkai lokal.
“Di Prabumulih, jargon persatuan itu kami sebut Seinggok Sepemunyian, yang berarti seiring sejalan. Meski berbeda suku dan adat istiadat, tujuan kita satu untuk kemajuan kota ini,” ujar Hanafi kepada awak media.
Wadah Musyawarah Tanpa Sekat
LAKP dibentuk dengan struktur pengurus yang sengaja diisi oleh representasi berbagai suku bangsa yang ada di Prabumulih. Tujuannya jelas: menjadi jembatan komunikasi yang egaliter. Dalam praktiknya, LAKP akan berperan dalam penerapan Living Law (hukum adat yang hidup) serta pendekatan Restorative Justice (keadilan restoratif).
“Ini adalah wadah musyawarah tanpa sekat. Di sini tidak ada mayoritas dan minoritas, yang ada adalah kita semua Satu Untuk Prabumulih,” tegas Hanafi.
Menuju Legalitas Formal: Draft Raperda Disusun
Tidak sekadar seremonial, langkah LAKP sudah mengarah pada penguatan legalitas formal. Saat ini, tim inisiator tengah menyusun Draft Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Adat dan Budaya. Regulasi ini diharapkan menjadi payung hukum administrasi sekaligus legitimasi untuk menggelar berbagai kirab budaya yang melibatkan seluruh elemen adat di Prabumulih.
Dengan adanya legalitas ini, visi besar LAKP untuk memperkokoh budaya luhur sebagai landasan membangun peradaban kota yang maju, adil, dan sejahtera diyakini akan lebih mudah terwujud.
“Kami ingin kirab budaya bukan hanya tontonan, tapi tuntunan yang mengokohkan rasa kekeluargaan antar warga,” pungkasnya. (azhari)














