JAKARTA | POROSNUSANTARA.COM Kelompok Sanggar Teater Cemara Delapan sukses mementaskan drama berjudul “SAYANG ADA ORANG LAIN” karya Utuy di Gedung Sinema Hall PPHUI (Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail) Jl. HR. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Minggu 12/4/2026.
Pertunjukan ini berhasil membuat ratusan penonton antusias menyaksikan dinamika kehidupan sosial dan kemiskinan yang digambarkan melalui seni peran yang inovatif. Pementasan ini di Sutradarai oleh Eddy Dharmawanto Seorang Seniman yang juga seorang Advokat.
Pementasan “SAYANG ADA ORANG LAIN” Berkisah tentang pasangan suami istri, Suminta dan Mini, yang hidup dalam kemiskinan yang parah. Masalah ekonomi membuat Suminta depresi dan pesimis, sementara Mini, yang dilarang bekerja, diam-diam menjual diri untuk mencukupi kebutuhan rumah tangganya. Puncak konflik terjadi ketika Suminta mendengar kabar dari tetangganya bahwa Mini terlihat naik mobil bersama laki-laki lain, membuatnya menghadapi dilema moral dan emosional.
Rangkuman Cerita :
● Suminta dan istrinya, Mini, terjerat utang karena penghasilan Suminta yang tidak mencukupi.
● Karena desakan ekonomi, Mini terpaksa bekerja sebagai pelacur secara diamdiam, sesuatu yang dilarang oleh Suminta.
● Suminta berjuang dengan keputusasaannya dan dilema moral saat ia mendengar kabar bahwa istrinya telah berselingkuh.
● Drama ini mengangkat tema sosial tentang kemiskinan, kondisi ekonomi keluarga, dan dilema moral yang dihadapi individu saat terdesak oleh keadaan.
Genre :
Naskah ini bergenre tragedi, karena menceritakan kisah pilihan yang tak pernah mudah
Pementasan ini merupakan upaya kelompok Sanggar Teater Cemara Delapan untuk tetap konsisten menghadirkan seni pertunjukan berkualitas tinggi yang relevan dengan keadaan sosial saat ini.
“Kami ingin membawa penonton menyelami makna dari sebuah perjalanan, baik secara fisik maupun emosional,” ujar Anie Surestu (Assisten Sutradara), ke media ini saat usai pementasan
Keberhasilan pementasan ini merupakan salah satu garda terdepan dalam ykancah seni pertunjukan Teater. Tidak hanya menyuguhkan dialog yang kuat, tata lampu dan desain panggung yang sederhana tapi unik, tapi juga menambah kedalaman bobot cerita yang disuguhkan.
Pementasan ini menjadi salah satu agenda budaya Sanggar Teater Cemara Delapan yang walaupun masih seumur jagung untuk terus menghidupkan seni pertunjukan di tengah masyarakat Jakarta. Gedung PPHUI (Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail) dipilih sebagai lokasi karena dianggap sangat representatif untuk pertunjukan Teater, dan sangat strategis, dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.
(Herman,ss).

















