JEMBER, JAWA TIMUR | POROSNUSANTARA.COM, (6 SEPTEMBER 2026) — Di tengah gempuran zaman yang perlahan mengikis ingatan kolektif masyarakat pedesaan akan mitos dan cerita rakyat, sebuah geliat gerakan kultural besar tengah berlangsung di Desa Biting, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Jember.

(Abdurrosyid (Cak Sid).
Melalui tangan dingin para seniman dari Sanggar Umah Wetan yang dikomandoi oleh Abdurrosyid
(Cak Sid) beserta Tim Pengabdian Masyarakat, folklore lokal tidak dibiarkan mati menjadi sekadar
fosil cerita usang.
Kolaborasi ini menggagas transformasi wujud kebudayaan lisan ke panggung pementasan dan
arak-arakan bertajuk “Ngarak Macan Si Kopek”. Program Inovasi Seni Nusantara ini didukung
penuh dan didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat
Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
Republik Indonesia.
Si Kopek : Menerjemahkan Mitos ke Rupa Kontemporer
Di Desa Biting, pijakan kultural masyarakat adalah tutur lisan tentang Macan Kopek—hewan
mitologi berwajah keriput bak lansia dengan ciri khas payudara menjuntai ke tanah, yang diyakini
sebagai penjaga desa pada area bertemunya dua kaki gunung (Gunung Raung dan Pegunungan
Argopuro) di era Nyai Gendruk dari Blambangan.
Jika dahulu mitos ini dirawat secara tertutup lewat ritual sesaji oleh para pinisepuh, kini ritual tersebut direvitalisasi menjadi sebuah perayaan visual komunal.
Melewati proses riset spiritual dan diskusi panjang bersama perupa lokal Jember Utara, wujud Si
Kopek direalisasikan. Tidak hanya satu, melainkan tiga figur instalasi arak-arakan diciptakan:
Macan Si Kopek, Macan Putih (perlambang timur/Gunung Raung), dan Macan Hitam
(perlambang barat/Pegunungan Argopuro).
Instalasi ini dirancang bukan sekadar sebagai boneka
raksasa, melainkan medium kinetik yang dihidupkan lewat koreografi penari di dalamnya,
memfasilitasi pertemuan magis antara tutur lisan masa lalu dengan seni rupa kontemporer
Kekinian.
Glondang Kopekan: Revolusi Nada dari Emperan ke Jalanan
Menghidupkan visual folklore juga membutuhkan detak jantung musikal. Inovasi paling radikal
dihadirkan lewat revolusi instrumen Glondang Kopekan. Glondang, alat musik tradisional berbahan
kayu khas Biting yang bersejarah sebagai bentuk perlawanan warga marginal yang tak mampu
membeli gamelan besi, kini didekonstruksi untuk kebutuhan arak-arakan (mobile).
Tim mengubah pakem laras Slendro menjadi laras Pelok (bernuansa Janger Jawa Timur) demi
menghadirkan ritme dinamis dalam keriuhan arak-arakan. Bilah kayu yang tadinya berjumlah 6-7
dalam satu pangkon dipecah menjadi kelompok tiga bilah yang bisa dimainkan sambil berjalan
menggunakan harness.
Lewat rekayasa akustik yang cermat berbasis pengetahuan tetua lokal, seniman menggunakan kayu waru dan mindi untuk nada rendah bergaung (dung), serta potongan
presisi kayu nangka tua untuk lengkingan tinggi (ting).
Merawat Memori Anak Muda menuju Indonesia Emas 2045.
Menurut Fitri Nura Murti, M.Pd., Ketua Tim Pengabdian Masyarakat, mengangkat Macan Kopek ke
jalanan pada malam sebelum tradisi bersih desa merupakan sebuah “jebakan estetis”. Pertunjukan
yang dikemas dengan instalasi rupa apik dan musik ritmis menjadi jembatan agar generasi muda
tidak kehilangan rasa kepemilikan (sense of belonging) pada desa tumpah darahnya.
“Ketika cerita leluhur diberi napas dan medium baru yang relevan dengan zaman, ia berhenti
menjadi sekadar kenangan. Ia menantang diri kita membuktikan bahwa akar tradisi yang dirawat
dengan kreativitas akan memberi kita keberanian untuk tumbuh melangkah ke masa depan tanpa kehilangan jati diri,” ungkapnya, merangkum esensi tujuan kebudayaan menuju Indonesia Emas 2045. (*/bgs).

























