Oleh : Stephanus Suwarjo
Pendidik Jiwa Pejuang – Kisah Ocha dari Uud Danum
PONTIANAK | POROSNUSANTARA.COM – Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat mencapai puncaknya saat babak final digelar di Pontianak. Tiga sekolah bertarung di final: SMAN 1 Sanggau, SMAN 1 Sambas, dan SMAN 1 Pontianak.
Di salah satu sesi, jawaban dari regu SMAN 1 Pontianak dianggap salah oleh juri dan kena minus 5. Tapi ketika jawaban serupa disampaikan regu lain, justru dinyatakan benar. Keputusan tidak konsisten itu langsung memicu protes dari peserta dan guru pendamping.
Di tengah polemik itulah muncul sosok Josepha Alexandra alias Ocha, siswi SMAN 1 Pontianak. Meski tidak mendapat keberpihakan juri, ia tetap berdiri tegak. Tidak berteriak, tidak menyerang, hanya mempertahankan pendapat yang ia yakini benar.
Setelah video protes viral, MPR RI akhirnya merespons. Pada Selasa, 12 Mei 2026, melalui akun resmi Instagram, MPR RI menyampaikan permintaan maaf atas kelalaian dewan juri. Sebagai tindak lanjut, dewan juri dan MC resmi dinonaktifkan sementara sambil menunggu evaluasi menyeluruh terhadap sistem penilaian dan mekanisme keberatan peserta. Kisah Ocha dari Uud Danum : Setelah ditelusuri, sosok Josepha Alexandra atau Ocha ternyata bukan datang dari ruang kosong. Ia adalah cucu dari seorang pendidik, Drs. Agustinus Untung dari Desa Deme, Kecamatan Ambalau, Kabupaten Sintang.
Pantas saja cara bicaranya tertata, pikirannya jernih, dan keberaniannya tidak goyah saat berdiri di depan forum besar. Itu bukan kebetulan. Itu warisan. Warisan seorang guru yang mendidik dengan hati, kini berbuah pada cucunya yang berani bersuara untuk kebenaran.
Ocha, siswi SMAN 1 Pontianak, menjadi sorotan setelah viral karena keteguhan sikapnya di ajang Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar MPR RI tingkat Kalbar. Meski saat lomba ia tidak mendapat keberpihakan dari juri, ia tetap berdiri tegak. Tidak berteriak, tidak menyerang, hanya mempertahankan pendapat dan pendiriannya yang ia yakini benar.
Kita boleh salah dinilai manusia, tapi di mata Tuhan tetap benar. Tuhan tak pernah salah menilai, begitulah nilai yang terpancar dari sikapnya.
Sebagai anak Dayak suku Uud Danum, Ocha membawa nama baik komunitasnya. Ia membuktikan bahwa anak Dayak tidak hanya kuat di adat, tapi juga berani di ruang intelektual dan nasional. Ia mengharumkan nama SMAN 1 Pontianak, nama keluarganya, dan nama besar Uud Danum selama ini mungkin jarang terdengar di panggung nasional.
Kebanggaan ini dirasakan langsung oleh Pemerintah Kota Pontianak dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, Walikota Pontianak dan Gubernur Kalbar patut berbangga karena memiliki pelajar yang tidak hanya cerdas, tapi juga berintegritas. Di tengah polemik, Ocha menunjukkan bahwa harga diri seorang pelajar tidak bisa diukur dari skor juri. Sikapnya membuat Kalbar dikenal sebagai daerah yang melahirkan generasi berani menjunjung kebenaran.
Kisah Ocha mengingatkan kita bahwa pendidikan karakter dimulai dari rumah. Dari seorang kakek guru di Desa Deme, lahirlah cucu yang hari ini menjadi motivasi bagi ribuan pelajar lain. Bahwa kalah karena kecurangan bukan akhir. Bahwa suara yang benar akan menemukan jalannya sendiri.
Semoga Ocha terus melangkah. Semoga keteguhannya menjadi api bagi generasi penerus Dayak dan Indonesia. Karena bangsa ini butuh lebih banyak anak muda yang berani berkata benar, meski sendirian.
Selamat, Ocha. Pontianak bangga. Kalbar bangga. Kamu sudah menang di tempat yang paling penting: di hati rakyat.
(Stephanus Suwarjo Kaperwil Kalbar media Porosnusantara.com)



















