JAKARTA, POROSNUSANTARA.COM – Di tengah ketatnya persaingan bisnis kuliner ibu kota, sebuah rumah makan dengan konsep unik hadir di kawasan strategis Jalan Veteran I No. 32, Gambir, Jakarta Pusat. Mengusung nama “Ambo Jowo”, rumah makan ini menghadirkan perpaduan menu khas Padang dan Jawa dalam satu sajian yang diklaim sebagai konsep rumah makan Padang-Jawa pertama di Jakarta.
Rumah makan tersebut didirikan oleh dua anak muda, Ahmad Farid Yasin dan Diny Rosicha. Keduanya mencoba menghadirkan pengalaman kuliner berbeda dengan menggabungkan kekayaan rempah Minang dan kelezatan masakan tradisional Jawa dalam satu meja makan.
Owner Ambo Jowo, Ahmad Farid Yasin, mengatakan ide tersebut lahir dari latar belakang budaya mereka yang berbeda. Farid merupakan pria asal Bukittinggi, Sumatera Barat, sementara partner bisnisnya, Diny Rosicha, berasal dari Semarang, Jawa Tengah.
“Sebetulnya kita berdua. Saya Farid dan partner saya Mbak Diny Rosicha. Konsepnya memang memadukan makanan Jawa dan makanan Padang. Jadi mungkin ini rumah makan Padang-Jawa pertama di Jakarta,” ujar Farid kepada awak media, Selasa (12/5/2026).
Menurut Farid, konsep fusion yang diusung Ambo Jowo tidak sekadar menghadirkan dua jenis menu dalam satu tempat, melainkan benar-benar mencampurkan elemen cita rasa kedua budaya kuliner tersebut.
“Misalnya orang makan nasi Padang pakai rendang, tapi dicampur urapan atau pecel. Jadi ada perpaduannya,” katanya.
Menu Signature Jadi Andalan
Meski baru beroperasi selama sekitar 10 hari, Ambo Jowo mengaku sudah memiliki sejumlah menu favorit pelanggan. Salah satu yang paling diminati adalah “Bambu Garang Asem”.
Menu tersebut merupakan pengembangan dari ayam garang asem khas Jawa, namun dimasak dengan cara berbeda.
“Basic-nya ayam garang asem, tapi bukan pakai daun pisang. Kita bakar di atas bambu, jadi aromanya lebih khas,” jelas Farid.
Selain itu, terdapat tiga menu signature khas Padang yang menjadi unggulan rumah makan tersebut.
Pertama adalah “Nasi Tungku”, yakni nasi khas Padang yang dikukus terlebih dahulu sebelum dibakar. Di dalamnya terdapat campuran mi, timun, labu, sayuran, serta sambal rendang. Menu ini dapat dipadukan dengan berbagai lauk seperti rendang, dendeng, maupun ayam.
Menu kedua adalah “Sambalado Ungu”, sajian lalapan khas Minang yang dipadukan dengan brokoli, timun, daun bawang, telur rebus, dan ikan teri, kemudian disiram sambal terasi bercampur air lemon.
Sementara menu ketiga adalah “Dendeng Mbo Mas”, yakni dendeng panggang dengan minyak kelapa yang disajikan bersama sambal irisan cabai hijau, bawang merah, tomat merah, tomat hijau, jeruk nipis, dan tambahan minyak kelapa di atasnya.
Untuk menu khas Jawa, Ambo Jowo menghadirkan pecel ala Semarang lengkap dengan bunga turi dan daun pepaya. Selain itu, terdapat pula botok udang yang dikukus dengan cita rasa asin dan pedas.
“Semua bumbu kita buat homemade,” kata Farid.

Meski baru beroperasi selama sekitar 10 hari, Ambo Jowo mengaku sudah memiliki sejumlah menu favorit pelanggan. Salah satu yang paling diminati adalah “Bambu Garang Asem”. (Dok-Istimewa)
Berawal dari Diskusi dan Persahabatan
Farid mengungkapkan, ide membangun Ambo Jowo muncul dari diskusi sederhana bersama Diny Rosicha yang sebelumnya merupakan rekan kerja kantoran.
Keduanya kemudian melihat adanya peluang besar dalam menggabungkan dua kuliner yang sama-sama memiliki basis penggemar kuat di Indonesia.
“Padang itu hampir semua orang suka. Jawa juga punya cita rasa rumahan yang khas. Jadi kita coba gabungkan,” ujarnya.
Nama “Ambo Jowo” sendiri memiliki filosofi unik. Kata “Ambo” dalam bahasa Minang berarti “saya”, sedangkan “Jowo” berarti Jawa.
“Kalau didefinisikan, artinya saya orang Jawa. Padahal saya orang Padang,” ujar Farid sambil tertawa.
Dari sisi tampilan, rumah makan tersebut sengaja dibuat menyerupai rumah makan Padang dari luar. Namun ketika masuk, pengunjung akan menemukan nuansa Jawa yang cukup kuat di bagian interior dan menu.
Tanpa Latar Belakang Kuliner
Menariknya, kedua owner Ambo Jowo mengaku tidak memiliki latar belakang pendidikan kuliner.
Farid merupakan lulusan hubungan internasional, sedangkan Diny berasal dari bidang bisnis. Meski demikian, Farid mengaku keluarganya memang telah lama menjalankan usaha rumah makan Padang.
“Saya bisa dibilang cucu pertama yang meneruskan bisnis keluarga di bidang kuliner,” katanya.
Sementara Diny mengaku kemampuan memasaknya diperoleh secara turun-temurun dari keluarga di kampung halaman.
“Nenek saya dulu pernah catering di kampung. Tante saya juga masih catering sampai sekarang. Saya belajar masak dari tante,” ujar Diny.
Salah satu menu pertama yang dipelajarinya adalah botok udang, yang kini menjadi salah satu menu di Ambo Jowo.
Bidik ASN dan Wisatawan Mancanegara
Pemilihan lokasi di kawasan Gambir bukan tanpa alasan. Farid menilai posisi rumah makan yang dekat dengan Monas, Masjid Istiqlal, serta kawasan perkantoran pemerintahan menjadi potensi pasar yang sangat besar.
“Di sini diapit lokasi wisata dan instansi pemerintahan. Jadi segmentasi utama kita ASN dan wisatawan,” katanya.
Menurutnya, selama 10 hari beroperasi, sekitar 70 persen pengunjung Ambo Jowo justru berasal dari wisatawan mancanegara.
“Ada dari Korea, Jepang, Jerman, Prancis, sampai Arab. Mungkin karena dekat Monas dan Istiqlal,” ungkapnya.
Sementara pada jam makan siang, rumah makan tersebut ramai dikunjungi pegawai kantoran dan aparatur sipil negara (ASN).
Harga Terjangkau dan Strategi Digital
Di tengah tingginya harga makanan di pusat kota Jakarta, Ambo Jowo mencoba tampil kompetitif dengan harga yang dinilai ramah di kantong.
“Kita mulai dari Rp5.000 saja,” kata Farid.
Untuk strategi pemasaran, Diny mengatakan pihaknya mengandalkan media sosial dan promosi dari mulut ke mulut atau “ketuk tular”.
“Sekarang kan era teknologi, jadi sosial media penting. Tapi promosi dari orang ke orang juga masih efektif,” ujarnya.
Ambo Jowo saat ini aktif memanfaatkan Instagram @rm.ambojowo dan TikTok rm.ambo.jowo untuk memperkenalkan menu serta berbagai promo kepada masyarakat.
Selain itu, dalam rangka grand opening, rumah makan tersebut memberikan potongan harga sebesar 20 persen hingga 31 Mei 2026 bagi setiap pengunjung yang datang langsung.
Target Buka Cabang di Seluruh Jakarta
Meski baru berjalan kurang dari dua pekan, Farid mengaku memiliki visi jangka panjang untuk mengembangkan Ambo Jowo ke berbagai wilayah di Jakarta hingga daerah lain.
“Harapan kami rumah makan ini bisa dikenal luas. Kalau impian jangka panjang tentu ingin punya cabang di setiap kota administrasi di Jakarta,” ujarnya.
Dengan konsep unik yang memadukan dua budaya kuliner besar Indonesia, Ambo Jowo kini mencoba mengambil tempat di tengah dinamika industri kuliner Jakarta yang kompetitif, sekaligus menawarkan pengalaman baru bagi pecinta masakan Nusantara.
(AA)









