Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
BERITANASIONAL

Tagihan Tak Masuk Akal, Pelanggan Ungkap Buruknya Sistem dan SOP Pelayanan PAM Jaya

19
×

Tagihan Tak Masuk Akal, Pelanggan Ungkap Buruknya Sistem dan SOP Pelayanan PAM Jaya

Sebarkan artikel ini
Foto: Unit Pelayan PAM Jaya Klender, Jl. Dermaga Raya, Klender, Duren Sawit, Jakarta Timur. (Dok-Istimewa)
Example 468x60

JAKARTA, POROSNUSANTARA.COM – Seorang pelanggan Perumda Air Minum (PAM) Jaya mengeluhkan lonjakan tagihan air yang dinilai tidak wajar, disertai pelayanan yang dianggap tidak efektif dan membingungkan. Keluhan ini disampaikan oleh Fahmy, pelanggan dengan nomor sambungan 40023270 atas nama Yazid, yang berdomisili di kawasan Jatinegara, Jakarta Timur.

Fahmy mengungkapkan bahwa selama bertahun-tahun dirinya membayar tagihan air dalam kisaran normal, yakni sekitar Rp150.000 hingga Rp200.000 per bulan. Namun, sejak Oktober 2025, tagihan air tiba-tiba melonjak drastis hingga mencapai Rp700.000 per bulan.

Example 300x600

“Awalnya kami tidak menyadari penyebabnya. Setelah dicek, ternyata ada kebocoran di keran tempat cuci piring. Keran itu sudah kami ganti dengan yang baru, tetapi tagihan tetap tinggi,” ujar Fahmy saat ditemui, Minggu (3/5/2026).

Meski sumber kebocoran telah diperbaiki, Fahmy mengaku tagihan air tidak kunjung kembali normal. Bahkan, berdasarkan pengecekan melalui layanan mobile banking, tagihan bulan April 2026 tercatat sebesar Rp611.934, meningkat signifikan dibandingkan tagihan bulan Maret sebesar Rp336.934 yang telah dibayarkan sebelumnya.

Merasa dirugikan, Fahmy mendatangi kantor pusat PAM Jaya di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, pada Rabu (29/4/2026). Namun, ia justru diarahkan untuk mengajukan pengaduan ke unit pelayanan di Klender, Jakarta Timur, sesuai domisilinya.

Setibanya di kantor pelayanan Klender, Fahmy mengaku langsung diminta mengambil nomor antrean tanpa ada proses verifikasi awal terkait wilayah layanan. Ia pun harus menunggu hingga sekitar dua jam sebelum akhirnya dilayani.

“Setelah menunggu lama, petugas yang bernama Novita mengatakan bahwa pengaduan saya bukan di sini, melainkan di unit Gudang Air di Ciracas. Ini sangat membingungkan, karena sebelumnya saya diarahkan ke Klender,” jelasnya.

Fahmy menyayangkan tidak adanya informasi yang jelas sejak awal, baik dari petugas keamanan maupun sistem pelayanan di lokasi. Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan lemahnya standar operasional prosedur (SOP) dalam pelayanan publik.

Setelah terjadi perdebatan, Novita petugas di Klender akhirnya bersedia membantu dengan meneruskan pengaduan Fahmy ke unit terkait di Gudang Air, Ciracas. Fahmy kemudian diminta untuk memberikan nomor telepon yang terhubung dengan aplikasi WhatsApp.

Pada hari yang sama, sekitar pukul 16.58 WIB, Fahmy menerima pesan WhatsApp dari pihak PAM Jaya Gudang Air yang meminta kelengkapan dokumen untuk proses peninjauan penurunan golongan tarif. Dokumen yang diminta meliputi KTP, Kartu Keluarga (KK), dan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).

Fahmy mengaku telah memenuhi seluruh permintaan tersebut. Namun hingga Minggu (3/5/2026), tidak ada tindak lanjut atau informasi lanjutan yang diterima dari pihak PAM Jaya.

“Sudah kami kirim semua dokumen yang diminta, tapi tidak ada kabar lagi. Tiba-tiba tagihan malah naik. Ini membuat kami sangat kecewa,” tegasnya.

Fahmy juga menegaskan bahwa penggunaan air di rumahnya tergolong minim. Ia hanya menggunakan tiga titik keran, yakni untuk kamar mandi, cuci piring, dan mencuci pakaian.

“Kami tidak punya mobil, hanya motor dan itu pun jarang dicuci. Tidak ada aktivitas lain seperti menyiram tanaman atau penggunaan berlebihan. Jadi sangat tidak masuk akal jika tagihan sebesar ini,” ujarnya.

Atas kejadian tersebut, Fahmy berharap manajemen PAM Jaya, khususnya Direktur Utama, dapat melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pelayanan dan penanganan keluhan pelanggan, terutama di tingkat unit pelayanan.

Ia menekankan pentingnya kejelasan prosedur, respons cepat terhadap pengaduan, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia di lapangan.

“Kami hanya ingin pelayanan yang jelas, transparan, dan manusiawi. Jangan sampai masyarakat dirugikan karena sistem yang tidak berjalan dengan baik,” pungkasnya.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak PAM Jaya belum memberikan keterangan resmi terkait keluhan tersebut.

(AA)

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA

Ahli waris H. Makawi Tetap Berupaya Lewat Jalur…