Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
DAERAH

Harga Sawit Terjun Bebas Mulai 21 Mei 2026, Petani Desa Sukarami dan Se-Wilayah Bengkulu Selatan Merugi, Biaya Produksi Tak Tertutup

×

Harga Sawit Terjun Bebas Mulai 21 Mei 2026, Petani Desa Sukarami dan Se-Wilayah Bengkulu Selatan Merugi, Biaya Produksi Tak Tertutup

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

BENGKULU SELATAN | POROSNUSANTARA.COM  – Kabar kurang menggembirakan kembali menghampiri para petani kelapa sawit di Kabupaten Bengkulu Selatan. Terhitung mulai hari ini, Kamis (21/05/2026), harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di tingkat petani resmi mengalami penurunan cukup drastis dan menyakitkan hati. Penurunan ini beriringan dengan anjloknya harga minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) di pasar nasional maupun internasional, yang menjadi acuan utama penetapan harga beli di lapangan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun wartawan di sejumlah kecamatan penghasil sawit seperti Air Nipis, Kedurang, Pino, hingga Manna, penurunan harga yang terjadi kali ini tercatat sangat tajam. Dari pantauan di lapangan, masing-masing pedagang pengumpul maupun pabrik pengolahan mencatat penurunan harga CPO berkisar antara Rp400 hingga mencapai Rp800 per kilogramnya. Angka penurunan ini otomatis berdampak langsung dan dipotongkan pada harga jual buah petani di kebun maupun di tempat penimbunan.

Example 300x600

Kondisi ini menuai keluhan luas dari seluruh petani, mengingat biaya pemeliharaan dan panen yang kian hari kian membebani. Salah satu yang sangat keberatan dan mengungkapkan kekecewaannya secara mendalam adalah Edi Hermansyah (53 tahun), seorang petani sawit warga Desa Sukarami, Kecamatan Air Nipis. Di tengah kebunnya yang rimbun, Edi menceritakan beratnya beban yang kini dipikulnya akibat anjloknya harga komoditas andalan masyarakat ini.

“Saya sangat mengeluh dan keberatan sekali dengan kondisi harga saat ini. Bagaimana tidak, penurunannya drastis sekali, mulai hari ini turun sampai Rp400 bahkan ada yang sampai Rp800 per kilonya. Ini sangat memukul kami petani kecil,” ungkap Edi Hermansyah dengan nada kecewa saat ditemui wartawan di lokasi kebunnya, Kamis siang.

Menurut bapak dua anak ini, besarnya angka penurunan itu sama sekali tidak sebanding dengan biaya yang harus ia keluarkan untuk merawat hingga memanen buah. Ia merinci, biaya operasional bertani sawit saat ini sudah sangat tinggi, mulai dari beli pupuk, obat-obatan, hingga upah tenaga kerja untuk memotong dan mengangkut buah. Semuanya terus naik harganya, sementara hasil jualannya justru dipangkas habis.

“Biaya untuk panen dan rawat kebun itu mahal sekali Pak. Kalau harga turun begini, hitung-hitungannya kami malah merugi. Hasil jual buah dikurangi bayar orang potong, bayar angkut, beli kebutuhan kebun, sisanya sangat sedikit, bahkan kadang tidak ada untungnya sama sekali. Kami bertani ini tujuannya untuk nafkah keluarga, tapi kalau terus begini, mau makan dari mana kami?” keluhnya panjang lebar.

Edi menambahkan, selama puluhan tahun ia mengandalkan hidup dari perkebunan sawit, namun penurunan harga yang terjadi hari ini terasa salah satu yang paling memberatkan. Ia mengaku bingung, apakah harus tetap memanen atau menahan buah dulu sambil berharap harga segera berbalik naik, padahal buah yang sudah tua tidak bisa terlalu lama dibiarkan di pohon.

“Kalau tidak dipanen rugi karena buah lepas dan kualitas turun, tapi kalau dipanen dijual dengan harga sekarang ya hasilnya sangat mengecewakan. Kami hanya berharap ada perhatian dari pemerintah, ada kebijakan yang bisa menstabilkan harga, jangan biarkan kami petani kecil yang terus menjadi korban gejolak harga ini,” tambahnya.

Keluhan Edi mewakili suara ribuan petani lain di Desa Sukarami, Desa Pagar Gading, Desa Batu Ampar, dan seluruh wilayah Bengkulu Selatan. Mereka sepakat, fluktuasi harga yang terlalu liar ini membuat ketidakpastian ekonomi semakin terasa. Selama ini, sawit menjadi tumpuan hidup utama, namun kini justru menjadi beban ketika harga anjlok di tengah tingginya biaya produksi.

Para petani berharap penurunan harga ini hanya bersifat sementara dan segera membaik dalam waktu dekat. Mereka juga meminta agar para pedagang dan pengusaha pengumpul tetap memanusiakan harga beli, serta pemerintah daerah melalui Dinas Perkebunan dapat turun tangan memantau dan mencari solusi perlindungan harga bagi petani kecil.

Hingga berita ini diturunkan, harga sawit di tingkat petani di Bengkulu Selatan masih mengikuti angka penurunan tersebut. Warga berharap ada jalan keluar terbaik, agar kesejahteraan petani tetap terjaga dan roda perekonomian masyarakat desa yang bergantung pada komoditas ini tetap berputar dengan baik.

(Sulaiman)

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *