Tag: # Ekonomi Nasional

  • 700 Juta Telur: Peluang atau Ketergantungan Baru?

    700 Juta Telur: Peluang atau Ketergantungan Baru?

    Oleh: Nandan Limakrisna*

    Program Makan Bergizi Gratis (MBG) membuka fakta yang mencengangkan: Indonesia membutuhkan sekitar 700 juta butir telur untuk memenuhi kebutuhan program tersebut. Angka ini bukan sekadar statistik konsumsi, melainkan cerminan dari terbentuknya pasar pangan dalam skala nasional yang sangat besar.

    Dalam merespons kebutuhan tersebut, muncul langkah menggandeng pelaku usaha luar negeri untuk memperkuat pasokan. Dari sudut pandang jangka pendek, langkah ini dapat dipahami sebagai upaya pragmatis untuk menjaga kelancaran program. Namun dari perspektif strategis, langkah tersebut memunculkan pertanyaan yang lebih mendasar: apakah pasar sebesar ini akan menjadi kekuatan ekonomi nasional, atau justru membuka ruang ketergantungan baru?

    Kebutuhan ratusan juta telur bukan hanya soal pemenuhan gizi masyarakat. Ia adalah indikator bahwa Indonesia sedang membangun sebuah pasar yang sangat besar, terstruktur, dan berkelanjutan. Dalam ilmu ekonomi, pasar seperti ini memiliki daya tarik luar biasa karena mampu menciptakan rantai produksi, distribusi, dan konsumsi dalam skala luas.

    Masalahnya, hingga saat ini, sistem produksi domestik belum sepenuhnya siap untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Akibatnya, solusi yang diambil cenderung mengarah pada kolaborasi eksternal. Jika tidak dikelola secara hati-hati, kondisi ini berpotensi membuat Indonesia hanya menjadi pasar, sementara nilai tambah ekonomi justru dinikmati oleh pihak lain.

    Padahal, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadikan kebutuhan ini sebagai motor penggerak ekonomi nasional. Dengan jumlah peternak yang tersebar di berbagai daerah, keberadaan koperasi, serta jaringan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), Indonesia memiliki fondasi untuk membangun sistem produksi berbasis masyarakat.

    Dalam konteks ini, diperlukan pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan jangka pendek, tetapi juga pada pembangunan sistem ekonomi jangka panjang. Salah satu pendekatan yang dapat dikembangkan adalah Snowball Business Model (SBM).

    SBM merupakan model ekonomi berbasis komunitas yang menekankan integrasi peran pelaku ekonomi dalam satu ekosistem. Dalam model ini, masyarakat tidak hanya berperan sebagai produsen, tetapi juga sebagai konsumen dan promotor dalam satu jaringan yang saling mendukung.

    Jika kebutuhan telur dalam program MBG diintegrasikan dengan SBM, maka peternak lokal dapat menjadi produsen utama, koperasi desa berperan sebagai pengelola distribusi, dan masyarakat menjadi bagian dari sistem konsumsi yang terorganisasi. Dengan demikian, pasar yang terbentuk tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi, tetapi juga menciptakan perputaran ekonomi yang berkelanjutan di dalam negeri.

    Pendekatan ini juga memiliki implikasi penting terhadap stabilitas ekonomi. Dengan sistem produksi dan distribusi yang berbasis lokal, ketergantungan terhadap pasokan eksternal dapat dikurangi. Selain itu, pelaku usaha di tingkat desa memperoleh kepastian pasar, sehingga mendorong peningkatan produksi dan investasi di sektor riil.

    Lebih jauh lagi, SBM dapat menjadi dasar dalam membangun kedaulatan ekonomi rakyat. Dalam sistem ini, arus ekonomi tidak hanya terpusat pada pelaku besar, tetapi tersebar dan berputar di tingkat masyarakat. Hal ini sejalan dengan tujuan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.

    Program MBG, dengan segala skalanya, seharusnya tidak dipandang hanya sebagai program sosial, melainkan sebagai peluang strategis untuk membangun industri pangan nasional. Jika dikelola dengan pendekatan yang tepat, kebutuhan 700 juta telur bukanlah beban, melainkan fondasi bagi kebangkitan ekonomi rakyat.

    Pada akhirnya, pertanyaan yang harus dijawab bukan sekadar bagaimana memenuhi kebutuhan tersebut, tetapi bagaimana memastikan bahwa nilai ekonomi yang dihasilkan benar-benar dinikmati oleh bangsa sendiri. Indonesia tidak kekurangan pasar. Yang dibutuhkan adalah sistem yang mampu mengelola pasar tersebut secara berdaulat.

    Jika kesempatan ini dapat dimanfaatkan dengan baik, maka Indonesia tidak hanya akan mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga memperkuat posisinya sebagai kekuatan ekonomi yang mandiri dan berkelanjutan.


    *) Nandan Limakrisna adalah Guru Besar Ilmu Manajemen di Universitas Persada Indonesia YAI (UPI YAI) yang menaruh perhatian pada kajian strategi bisnis, pemasaran, serta pengembangan ekonomi berbasis komunitas. Ia aktif menulis dan memberikan pemikiran mengenai pemberdayaan UMKM, model bisnis kolaboratif, dan penguatan ekonomi rakyat. Melalui berbagai tulisan dan forum akademik, ia juga memperkenalkan konsep Snowball Business Model (SBM) sebagai pendekatan pengembangan ekosistem ekonomi komunitas. Pemikirannya banyak menyoroti pentingnya sinergi antara industrialisasi nasional dan ekonomi rakyat dalam pembangunan ekonomi Indonesia.

  • Dukung Konser Bruno Mars di Jakarta, Ketua MPR RI Bamsoet Dorong Peningkatan Ekonomi Nasional

    JAKARTA | POROSNUSANTARA.COM – Ketua MPR RI sekaligus Wakil Ketua Umum Partai Golkar Bambang Soesatyo mendukung langkah Promotor PK Entertainment dan TEM Presents yang akan menggelar konser Bruno Mars pada 13-14 September 2024 di Jakarta International Stadium (JIS). Sebelumnya, PK Entertainment juga sukses menyelenggarakan berbagai konser musisi internasional di Indonesia, antara lain Coldplay, Celine Dion, Ed Sheeran, Tom Jones, Charlie Puth, Westlife, LANY, BABYMONSTER, Dua Lipa, Keshi, Backstreet Boys, dan masih banyak lagi musisi lainnya.

    “Bruno Mars adalah salah satu penyanyi dan penulis lagu paling populer di dunia yang telah memenangkan banyak penghargaan, termasuk 13 Grammy Awards. Berbagai lagunya telah diputar miliaran kali di seluruh dunia. Bruno Mars memiliki basis penggemar yang besar di Indonesia. Konser sebelumnya di Jakarta pada tahun 2014, tiketnya terjual habis. Kedatangannya kembali pada tahun ini menunjukan bahwa musisi internasional sangat nyaman melakukan konser di Indonesia,” ujar Bamsoet dalam konferensi pers konser Bruno Mars, di Jakarta, Jumat (21/6/24).

    Hadir antara lain Wakil Ketua MPR RI Fadel Muhammad, Pendiri PK Entertainment Harry Sudarma dan Direktur Utama TEM Presents Samantha Tzolovos.

    Ketua DPR RI ke-20 dan mantan Ketua Komisi III DPR RI bidang Hukum, HAM, dan Keamanan ini menjelaskan, musik telah terbukti menjadi sarana yang lebih dari sekadar hiburan, musik juga telah menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi. Sebagai contoh, data The Economic and Employment Impact of The Arts and Music pada tahun 2013, tourism economic impact di setiap konser yang diadakan di UK memiliki potensi average spend per orangnya equivalent di Rp 12 juta. Sehingga semakin banyak konser musik berskala internasional yang diselenggarakan di Indonesia, semakin besar pula dampaknya pada perputaran ekonomi nasional.

    Berbagai konser internasional yang telah dan akan diselenggarakan PK Entertainment, telah menggerakkan perekonomian nasional dengan luar biasa. Menarik wisatawan sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai destinasi hiburan terkemuka di Asia. Sebagai contoh, kesuksesan konser Coldplay di Indonesia yang diselenggarakan PK Entertainment, tidak hanya berdampak positif bagi country branding Indonesia di mata dunia. Melainkan juga bagi perputaran ekonomi nasional. Perputaran uang dari konser ini diprediksi mencapai Rp 1,2 triliun,” jelas Bamsoet.

    Ketua Dewan Pembina Depinas SOKSI (Ormas Pendiri Partai Golkar) dan Kepala Badan Polhukam KADIN Indonesia ini menerangkan, para penonton konser Bruno Mars di JIS tidak perlu khawatir. Pihak promotor memastikan akan senantiasa berkoordinasi dengan pihak JIS dan beberapa mitra terkait lainnya seperti Dinas Perhubungan dan Dirlantas Polda Metro Jaya, untuk memastikan kelancaran akses lalu lintas demi memberikan kenyamanan pengalaman menonton konse
    r di JIS.

    “Berbagai langkah telah di
    siapkan. Misalnya menyediakan tempat parkir tambahan, shuttle bus di beberapa titik penjemputan dan pengantaran, layanan ojek/ride-hailing, serta bekerja sama dengan berbagai pihak terkait seperti Ancol dan kawasan PPK Kemayoran. Sehingga bisa memastikan para penggemar mendapatkan pengalaman konser terbaik, dan akan menjadi momen bersejarah bagi seluruh penggemar Bruno Mars yang menyaksikan konser di Indonesia,” terang Bamsoet.

    Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila dan Wakil Ketua Umum FKPPI/Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini menambahkan, agar semakin banyak lagi konser internasional diselenggarakan di Indonesia, maka pemerintah juga harus terus menerus memberikan dukungan terhadap para promotor konser dalam negeri. Sehingga kita bisa seperti Singapura, yang menjadikan konser sebagai mesin pertumbuhan ekonomi baru.

    Pemerintah Singapura menyadari bahwa potensi market penonton konser musisi dunia bukan hanya dari warga mereka saja, melainkan juga dari warga Asia Tenggara bahkan Asia pada umumnya. Sehingga pemerintah Singapura sangat memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan konser musik dari berbagai musisi dunia.

    “Melalui Dewan Pariwisata Singapura (Singapore Tourism Board), promotor dan penyelenggara konser di Singapura mendapatkan dukungan stimulus, insentif, dan tax holiday, sekaligus diberikan kemudahan berbagai proses perijinan dan birokrasi. Hal ini juga sudah dijalankan oleh pemerintah Indonesia, hanya tinggal perlu ditingkatkan,” pungkas Bamsoet.