KOTABEKASI|POROSNUSANTARA.COM– Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bekasi menggelar talkshow bertajuk “Bersama Generasi Muda Waspada LGBTQ Tahun 2026”. Kegiatan tersebut menjadi ruang diskusi mengenai peran keluarga, lingkungan pendidikan, organisasi keagamaan, serta pemerintah dalam membangun karakter dan ketahanan moral generasi muda.
Ketua MUI Kota Bekasi, Drs. KH. Saifuddin Siroj, mengatakan upaya pembinaan generasi muda membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Menurutnya, Kota Bekasi yang dikenal sebagai kota patriot dan agamis perlu memperkuat pendidikan nilai, moral, dan etika bagi generasi muda.
“Kita harus memegang teguh bahwa Kota Bekasi sebagai kota patriot dan agamis. Semuanya juga tidak ada agama yang mengizinkan LGBTQ. Sungguh ini satu ancaman yang luar biasa bagi pengembangan moral dan etika dari anak generasi muda kita,” ungkap Saifuddin Siroj.
Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah, DPRD, lembaga keagamaan, organisasi masyarakat, ulama, serta berbagai elemen masyarakat untuk menghadapi persoalan sosial yang dinilai dapat memengaruhi perkembangan generasi muda.
“Maka kita sebagai lembaga keagamaan memiliki satu prinsip yang ingin didukung oleh seluruh ketua ormas dan ulama-ulama yang ada di Kota Bekasi. Intinya, kedepankan kita bersama-sama berkolaborasi antara Pemerintah Kota Bekasi, DPRD, lembaga-lembaga keagamaan, termasuk MUI dan ormas-ormas yang ada di Kota Bekasi,” ujarnya.
Saifuddin juga mendorong agar pembahasan mengenai regulasi daerah dilakukan secara serius, dengan tetap memperhatikan ketentuan hukum yang berlaku serta dampaknya terhadap kehidupan sosial masyarakat.
Ia berharap setiap kebijakan yang dirumuskan nantinya dapat menjadi landasan hukum yang jelas dan dapat diimplementasikan secara tepat di tengah masyarakat.
“Saya berharap para ulama melihat ini sebagai persoalan yang tidak main-main, karena yang sedang diserang itu adalah generasi yang akan datang. Sehingga kita sebagai orang tua, masyarakat, agama, dan pemerintah memiliki tanggung jawab yang sama sesuai kapasitas dan wilayah masing-masing,” katanya.
Sementara itu, narasumber talkshow, Wahyu Ningsih, M.Si., menyampaikan sejumlah langkah yang dapat dilakukan keluarga dan lingkungan terdekat dalam membangun ketahanan diri pada anak dan remaja.
Menurut Wahyu, keluarga memiliki peran penting melalui terciptanya rumah yang harmonis, suasana yang hidup, serta kesadaran terhadap fungsi dan peran masing-masing anggota keluarga.
Ia juga menekankan pentingnya memberikan perhatian sejak dini melalui hubungan yang dekat, kasih sayang, dan rasa nyaman. Interaksi yang baik antara orang tua dan anak juga perlu dibangun melalui bahasa komunikasi, ekspresi, respons, serta perilaku yang menjadi contoh bagi anak.
Selain itu, penguatan diri dan kemampuan anak dalam menghadapi berbagai situasi juga dinilai penting. Anak perlu mendapatkan pemahaman yang tepat, memiliki kemampuan menjaga diri, serta berada dalam lingkungan pergaulan dan fasilitas yang mendukung perkembangan positif.
Dalam materi tersebut, Wahyu juga menyampaikan sejumlah sikap yang perlu dibangun, antara lain keyakinan diri, sikap tegas, keberanian, kemampuan menjaga diri, serta keterbukaan untuk melihat berbagai sudut pandang secara benar dan baik.
Ia turut menekankan pentingnya kesadaran diri, kemampuan mengendalikan dorongan dan perilaku, serta perubahan secara bertahap. Bagi individu yang membutuhkan dukungan lebih lanjut, bantuan tenaga profesional juga dapat menjadi salah satu pilihan untuk mendapatkan pendampingan yang sesuai.
Talkshow tersebut diharapkan dapat memperkuat kesadaran bersama mengenai pentingnya peran keluarga, pendidikan, lingkungan sosial, lembaga keagamaan, dan pemerintah dalam memberikan pendampingan kepada generasi muda agar tumbuh dalam lingkungan yang aman, sehat, dan positif.































