BENGKULU SELATAN | POROSNUSANTARA.COM – Rabu, 20 Mei 2026. Sebuah unggahan di media sosial Facebook dari akun Ex Ex menjadi sorotan dan menyebar luas, mengungkapkan kekecewaan mendalam serta kekesalan masyarakat Desa Sukarami, Kecamatan Air Nipis, Kabupaten Bengkulu Selatan. Rasa kecewa itu muncul karena layanan ambulans desa ternyata tidak berfungsi dan tidak ada di tempat sebagaimana mestinya saat sangat dibutuhkan untuk menolong warga yang sedang dalam kondisi kritis.
Berdasarkan keterangan yang dikonfirmasi jurnalis porosnusantara.com langsung kepada Ex melalui pesan WhatsApp 20/05/2026 sekitar pukul 11.50 WIB, insiden bermula ketika seorang warga bernama Pak Dalil 75 tahun, mengalami luka parah hingga pendarahan hebat di bagian kepala akibat terbentur atau terluka oleh benda keras. Kondisi Pak Dalil saat itu dinilai sangat berbahaya dan membutuhkan penanganan medis secepat mungkin di Puskesmas terdekat. Segala upaya dilakukan untuk segera membawa korban ke fasilitas kesehatan, namun hambatan besar justru datang dari sarana yang seharusnya menjadi andalan warga Saat dicari ambulan Desa tidak berada di tempat yang ditentukan Keberadaannya tidak diketahui, bahkan ada dugaan kendaraan itu berada di kediaman Kepala Desa atau dibawa ke tempat lain tanpa kejelasan.
Masyarakat setempat pun turut membenarkan peristiwa yang memilukan ini Salah satu warga Desa Sukarami, Sri yang saat kejadian berada di kediaman Pak Dalil, membenarkan kejadian tersebut benar-benar terjadi saat dikonfirmasi via mesengger.
“Kami pihak keluarga sudah menghubungi petugas ambulans, tapi sudah hampir setengah jam menunggu, ambulans tak kunjung datang,” ungkap Bu Sri. Karena waktu terus berlalu dan kondisi korban makin mengkhawatirkan, akhirnya ada warga bernama Amal yang menawarkan bantuan sukarela untuk membawa Pak Dalil menggunakan mobil pribadinya” ujar Sri
Masih menurut Sri , hendaknya ambulan tersebut ditempatkan saja di Balai Desa biar gampang dicari, dihubungi, dan siap digunakan kapan pun warga membutuhkan. pungkas Sri
Karena tidak ada kendaraan darurat resmi yang bisa diandalkan, akhirnya Pak Dalil terpaksa dibawa menggunakan kendaraan pribadi milik warga yang berniat baik, meskipun perjalanan tersebut jauh dari kondisi ideal bagi pasien yang sedang mengalami pendarahan parah.
Dalam tulisannya Ex menyampaikan ketidakpuasannya dan menyayangkan kondisi di mana kendaraan yang seharusnya selalu siaga untuk warga justru hilang saat dibutuhkan.
“Inilah masalah yang ada di desaku yang sempat membuat emosi dan air mata, seandainya masih ada hati yang punya empati dan simpati tolonglah gunakan hati dan pikiran, agar jika nanti ada masyarakat yg butuh pertolongan cepat bisa segera di bawa ke Puskesmas desa”, Keluh akun tersebut.
Unggahan itu pun langsung mendapatkan banyak reaksi, komentar, dan pembagian dari pengguna lain yang turut merasakan keprihatinan yang sama.
Mewakili perasaan banyak warga, Ex juga menyampaikan harapan tegas terkait fungsi ambulan desa tersebut, bahkan akun ex tersebut menegaskan bahwa kendaraan itu adalah fasilitas yang diberikan pemerintah semata-mata untuk kepentingan masyarakat, terutama dalam situasi darurat dan mendesak, bukan kendaraan umum atau milik pribadi yang boleh dibawa ke mana saja sesuka hati.
“Harapan kami sebagai masyarakat, ambulan desa itu selalu siaga dan ada di tempat yang sudah disepakati, Kendaraan ini bukan kendaraan bebas yang boleh dipakai ke mana-mana. Pemerintah memberikan ambulan desa tentu tujuannya jelas untuk kepentingan warga saat dalam keadaan darurat mendesak, bukan untuk kepentingan pribadi,” tegasnya saat mengakhiri keterangan kepada jurnalis media ini. (Sulaiman)



















