PEKANBARU | POROSNUSANTARA.COM – Lebih dari 700 hektare lahan perkebunan sawit milik negara di afdeling III Sungai Parit, Kabupaten Indragiri Hulu yang seharusnya menjadi tulang punggung ekonomi daerah kini terbenam dalam kegelapan semak belukar dan serangan parasit yang tak terkendali.
Pohon-pohon sawit yang dulu subur kini terlihat seperti makhluk hampa yang sedang berjuang untuk bertahan, sementara pihak pengelola PTPN IV Reginal III terus melakukan panen, sebuah tindakan yang rasanya lebih seperti mengambil habis apa yang tersisa ketimbang memproduksi dengan penuh tanggung jawab.
Ketika tim Media Porosnusantara .com, tiba di lokasi pada Selasa (24/2/2026), suasana yang menyambut jauh dari gambaran perkebunan milik negara yang profesional. Hanya sekitar 50 meter dari jalan utama yang sedikit terawat, seolah hanya untuk menunjukkan kepada siapapun yang lewat bahwa “kami masih bekerja di sini”.
Sisanya? Ribuan pohon sawit terhimpit oleh semak yang tumbuh liar hingga lebih dari dua meter, dengan akar parasit dan anak pohon yang menjalar seperti ular ke atas batang dan menyebar ke tajuk tanaman, merusak struktur dari akar hingga daun.
”Saya pernah bekerja di sini lebih dari 5 tahun. Dua tahun terakhir, bahkan hampir tiga tahun tidak ada satu pun aktivitas pemeliharaan yang serius tidak ada penyiangan menyeluruh, tidak ada pemupukan, bahkan tidak ada upaya nyata untuk mengendalikan hama dan parasit,” cerita seorang mantan pekerja yang enggan mengungkapkan identitasnya, takut akan dampak yang mungkin terjadi. Menurutnya, masalah awalnya hanya muncul di sekitar akar pohon, tapi karena dibiarkan begitu saja, parasit pun menyebar dengan cepat.
“Sekarang sudah meresap ke dalam batang, membuat pohon jadi lemah dan hasilnya mengecewakan buah kecil, tidak merata, banyak yang cacat.”
Dari apa yang kami lihat langsung, sebagian besar tanaman menunjukkan tanda-tanda kerusakan yang sudah parah. Daun menguning dan rontok secara masif, batang yang hampir seluruhnya tertutup oleh akar parasit, dan tandan buah segar (TBS) yang kualitasnya jelas di bawah standar. Tidak perlu analisis mendalam untuk menyadari bahwa produktivitas di sini sudah jatuh bebas puluhan persen hilang hanya karena kelalaian yang tampaknya tak ada akhir.
KONTRADIKSI DI BALIK PERNYATAAN MANAJEMEN
Kami mencoba mencari klarifikasi dari pihak pengelola. Melalui pesan WhatsApp, Asisten Umum PTPN IV Regional III, mengakui sebuah fakta yang cukup mengejutkan: Afdeling 3 memang tidak mendapatkan alokasi anggaran untuk perawatan pada tahun 2026. Namun dia lupa bahwa Perawatan yang kami pertanyakan adalah ditahun 2023, 2024,dan tahun 2025.
Eka Surya Darmawan, Manager kebun Air Molek 2, kemudian memberikan pernyataan resmi yang seolah mencoba membungkus kondisi ini dengan label “strategi”.
Menurut Eka, informasi bahwa lahan tidak dirawat selama hampir tiga tahun adalah tidak benar. Perusahaan, katanya, konsisten melaksanakan program perawatan sesuai standar operasional, bahkan menerapkan strategi agronomi progresif dengan kombinasi bahan organik, pupuk presisi, dan agen hayati untuk keberlanjutan.
“Sebagian areal di Afdeling 3 termasuk dalam rencana tanam ulang (TU) seluas 862 hektare yang dijadwalkan Juli 2026, dan kondisi vegetasi saat ini merupakan tahapan teknis menjelang peremajaan tanaman yang sudah tidak ekonomis,” jelasnya.
Penurunan produksi, katanya lagi, adalah siklus biologis yang wajar dan sudah diperhitungkan, sementara program TU bertujuan meningkatkan produktivitas jangka panjang dan sejalan dengan program Presiden.
“Kami tetap berkomitmen menjalankan tata kelola secara profesional dan terbuka untuk klarifikasi berbasis data,” pungkasnya. melalui WA yang dikirimkan kepada Poros Nusantara Rabu (24/2)
Namun, pernyataan ini hanya menimbulkan lebih banyak pertanyaan ketimbang jawaban. Bagaimana mungkin sebuah perkebunan yang mengklaim melakukan perawatan sesuai standar bisa terlihat begitu terbengkalai dan terlantar?
Mengapa anggaran perawatan dihentikan padahal Tanam Ulang (replanting) baru akan dilakukan lima bulan lagi? Dan yang paling penting, mengapa masih dilakukan panen padahal kondisi tanaman sudah sangat tidak layak? Apakah kualitas TBS yang dihasilkan benar-benar memenuhi standar pasar, ataukah hanya menjadi barang dagangan murahan yang merusak citra produk sawit dalam negeri?
Kebun Sungai Parit merupakan bagian dari integrasi PTPN V ke dalam PTPN IV pada akhir 2023, yang membuat PTPN IV Regional III menjadi salah satu pengelola perkebunan terbesar di Riau dengan total luas sekitar 76.000 hektare. Wilayah operasional yang sama pernah menjadi sumber kebanggaan ketika Kebun Air Molek 1 dan 2 menyelenggarakan program pangan murah Ramadhan tahun 2025 bukti bahwa perkebunan milik negara bisa memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekitar.
Namun, kondisi Afdeling 3 saat ini seperti sebuah lecet yang membusuk di tengah kesuksesan tersebut. Ia mengangkat sejumlah pertanyaan krusial yang tak bisa lagi diabaikan. Bagaimana mekanisme pengawasan internal PTPN IV Regional III? Bukankah tugas mereka untuk memastikan setiap unit kebun beroperasi dengan baik, bukan hanya membiarkan potensi produksi terbuang sia-sia?
Apakah ada evaluasi dampak jangka panjang? Siapakah yang akan bertanggung jawab jika kondisi tanah menjadi semakin buruk dan menyulitkan pelaksanaan TU di masa depan?
Perkebunan sawit bukan hanya sekadar lahan untuk menghasilkan komoditi. Ia adalah bagian penting dari ekosistem lokal, sumber mata pencaharian bagi banyak orang, dan aset publik yang seharusnya dikelola dengan penuh tanggung jawab. Kondisi 700 hektare lahan di Afdeling 3 adalah cerminan dari masalah yang lebih dalam, masalah yang tidak akan hilang hanya dengan menyebutnya “tahapan teknis”.
Tanpa tindakan korektif yang cepat dan transparansi yang sebenarnya dalam pengelolaan, potensi besar yang terkandung dalam lahan ini akan terus hilang tanpa bisa diperbaiki. Kerugian ini tidak hanya akan dirasakan oleh PTPN IV, tetapi juga oleh seluruh masyarakat yang seharusnya menikmati manfaat dari aset yang seharusnya menjadi kebanggaan bersama.
Kapan kita akan berhenti melihat aset negara kita terbuang hanya karena alasan yang kurang jelas? Hanya waktu yang bisa menjawabnya. Namun sayangnya, waktu tidak akan menunggu bagi 700 hektare lahan yang terus tergerus oleh semak dan parasit. (tun)














